Oleh: Mahdiduri
Catatan #2 Sayembara Logo HUT Banten
LANTAS bagaimana capaian komunikasi visual pemimpin daerah selepas Banten menjadi provinsi pada 2020? Seiring perkembangan teknologi, berkembang pula gaya komunikasi visual pemimpin daerahnya (mengingat tren komunikasi visual dipengaruhi kondisi politik dan kepemimpinan daerah). Ada satu komunikasi visual yang dilestarikan sampai saat ini, yaitu penyertaan foto kepala daerah di setiap media publikasi pemerintahan. Di Banten, tren ini muncul di era gubernur Rt. Atut Chosyiah, dengan tujuan indoktrinasi populis kepala daerah untuk kepentingan pemilukada.
Tren ini tidak bisa dihindari mengingat sudah menjadi kebutuhan kepala daerah itu sendiri terhadap eksistensi politis. Sebuah investasi “dangkal” tapi dirasa “efektif”.
Kaya nilai kebantenan, miskin citarasa visual
Kondisi inilah yang saya rasakan sedang terjadi di Provinsi Banten (minus Tangerang). Seperti orang kaya baru yang gagap dengan kekayaan yang didapatkannya, semuanya diinginkan tanpa menimbang yang dibutuhkan. Jalan-jalan ke luar daerah hanya sekedar menghasilkan kekaguman, bahan gosip dan prestise, menjadi gagap ketika kekaguman itu coba diterapkan di rumah sendiri. Romantisme akut kebantenan tidak dibarengi dengan kemampuan dalam mencecap citarasa visual, yang ada hanya sebatas garis, warna sembarang tanpa menimbang makna sehingga komunikasi terasa hambar.
Contoh kecil hal itu terjadi di sayembara logo HUT Banten beberapa tahun ini. Bagaimana nilai kebantenan dikotak-kotakan berdasarkan demografi, nilai sejarah kesultanan hanya sekedar menjadi nafsu tanpa tahu bagaimana cara yang elok menggambarkannya. Yang hadir adalah gambar-gambar tumpang tindih mewakili kab/kota, sementara visi sebuah provinsi, misi kepala daerah dihilangkan serampangan, hanya menyisakan teks-teks slogan yang mati.
Keberadaannya didesain tanpa arah yang jelas oleh individu yang “dipaksa merasa mengerti” mengenai komunikasi visual, sehingga tren yang berkembang saat ini dinafikan dan berkubang di konsep lawas. Tokoh masyarakat yang memahami sejarah hanya sekedar jadi stempel legalitas kesesuaian simbolik dengan nilai kebantenan. Lantas dimana praktisi komunikasi visual? Mereka dianggap tidak diperlukan, toh hanya sekedar gambar, yang penting ada dan terserap.
Sangat disayangkan, Ironman hanya ada dikomunikasi visual barat, di sini hanya ada ironi.Kondisi yang bertolak belakang dengan komitmen gubernur Banten untuk menciptakan ekosistem kreativitas yang layak, sehat dan berdaya saing.
Visual hanya berhenti pada level “ornamen”, tidak berfungsi sebagai identitas yang mengikat masyarakat. Adapun kecendrungan visual yang ada sebagai berikut, (1) Tipografi: minim eksplorasi, sekadar font dekoratif generik. Padahal tipografi bisa digali dari aksara lokal, kaligrafi, atau ornamen khas Banten. (2) Dominasi warna cerah acak tanpa makna psikologis (3) Komposisi: elemen visual ditempel seadanya, tanpa irama visual. Sebaiknya menggunakan pola modular yang menyatukan unsur kabupaten/kota secara harmonis. (4) Simbol hanya mengulang ikon lama. Padahal Banten punya kekayaan ikonografi—dari flora-fauna Ujung Kulon, motif batik Banten, hingga aktifitas budaya. (5) arah pembangunan (visi/misi) kepala daerah.
Menjadi miskin citarasa visual dikarenakan kita tidak konsisten atas gaya visual yang ajeg (belum adanya visual identity guideline), kemudian lemahnya narai visual, sekadar menempel ikon, bukan membangun cerita utuh tentang kebantenan modern.
Jika sejak era kasha dan URIDAB Banten bisa menyampaikan pesan besar lewat simbol sederhana, maka seharusnya di era modern komunikasi visual lebih kaya lagi. Banten tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Saatnya filosofi kebantenan diterjemahkan ke dalam bahasa visual kontemporer yang kuat, konsisten, dan membanggakan—agar benar-benar menjadi etalase identitas daerah yang berdaya saing. (*)
Penulis adalah Freelance
Graphic Designer











