slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Humaniora

Baduy Dalam: Simbol Harmoni Sosial dan Ekologi

Redaksi by Redaksi
13-10-2025 10:30:49
in Humaniora
Baduy Dalam: Simbol Harmoni Sosial dan Ekologi

Gubernur Banten dan Kapolda Banten Bersama masyarakat adat Baduy Dalam.

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Oleh: Hendra Wirawan

Jauh di pedalaman Banten, hiduplah komunitas adat yang menjaga keheningan di tengah hiruk pikuk dunia modern. Mereka adalah masyarakat adat Baduy yang memegang teguh tradisi dan menolak masuknya sebagian teknologi modern untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga :

Menggugat Sesat Pikir Implementasi Pancasila dari Hipogram Orde Baru Menuju Ruang Dialektika Papan Catur

Idul Adha, Teladan Keluarga Nabi Ibrahim

Haji dan Makna Perjalanan Spiritual 

Retaknya Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak

Komunitas adat ini dibagi menjadi Baduy Luar yang lebih terbuka dan menerima Sebagian teknologi serta Baduy Dalam yang memegang teguh ajaran pikukuh karuhun (Alvernia dkk,2022). Sebuah falsafah hidup yang menuntun manusia untuk menjaga keseimbangan dengan alam. Ajaran ini merupakan simbol harmoni sosial-ekologi yang semakin langka di tengah arus globalisasi yang serba cepat dan materialistis.

Penelitian Permana (2025) menunjukkan, masyarakat adat Baduy Dalam konsisten mempraktikkan norma, spiritualitas, dan pelestarian alam yang diwariskan leluhur. Ketika dunia sibuk membicarakan kecerdasan buatan, transformasi hijau, dan pertumbuhan ekonomi, mereka memilih jalan sunyi: meruwat pitutur leluhur dengan keteguhan yang sulit ditemui di era modern. Prinsip itu bukan sebatas wacana, melainkan napas hidup yang mereka jalani setiap hari. Keberanian mereka untuk menolak arus besar globalisasi menjadikan Baduy Dalam sebagai cermin kecil dari perlawanan terhadap gaya hidup eksploitatif. Berbeda dengan masyarakat adat Baduy Luar yang lebih boleh berinteraksi dengan dunia luar, masyarakat adat Baduy Dalam memilih untuk mempertahankan gaya hidup tradisional.

Namun, hal tersebut menimbulkan persoalan lain salah satunya adalah penolakan terhadap kepemilikan kartu identitas (KTP). Tanpa disadari, sikap ini membuat mereka terhalang mengakses layanan dasar pemerintah seperti kesehatan, pendidikan, dan bantuan sosial. Di sinilah paradoks muncul: perlindungan tradisi bisa berbalik menjadi penghalang kesejahteraan. Pertanyaan kritis pun mengemuka: bagaimana negara bisa menghormati adat tanpa mengorbankan hak dasar warganya.

Resistensi Kultural

Bagai memakan buah simalakama, warga Baduy Dalam yang jumlahnya 1.574 jiwa dihadapkan pada dua tekanan sekaligus. Pada satu sisi, mereka seolah dituntut untuk membuka diri terhadap perubahan zaman. Pada sisi lain, mereka secara kultural memiliki kewajiban untuk melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dua tekanan ini saling beradu kuat, menempatkan mereka pada persimpangan arah: tetap mempertahankan kearifan lokal namun harus siap dianggap terbelakang, atau menggadaikan identitas budaya demi mengikuti perkembangan zaman.

Pemerintah telah berupaya mendorong ekowisata adat demi menggerakkan ekonomi lokal. Namun, kebijakan ini justru menimbulkan resistensi karena dianggap bertentangan dengan aturan adat (Soraya dkk, 2024). Resistensi itu bukanlah penolakan semata, melainkan perlawanan kultural: sebuah simbol penegasan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan modernisasi. Perlawanan semacam ini juga terjadi di berbagai komunitas adat di dunia, mulai dari Indian di Amerika hingga Maori di Selandia Baru. Pola yang muncul serupa: komunitas adat menolak modernisasi yang meminggirkan nilai budaya mereka.

Dari perspektif sosiologi, resistensi tidak selalu destruktif, tetapi juga bisa konstruktif. Praptika dkk (2024) menyebut masyarakat Baduy memiliki ketahanan psikologis dalam menghadapi ancaman eksternal. Penolakan mereka atas intervensi modernisasi sesungguhnya adalah pesan: bahwa kesejahteraan dapat terwujud melalui interaksi sosial-ekologis, bukan semata-mata lewat teknologi dan industrialisasi. Justru di era krisis iklim, cara hidup sederhana dan selaras alam menjadi kritik paling relevan terhadap pembangunan yang rakus sumber daya. Sebagian orang mungkin menilai gaya hidup Baduy Dalam sebagai penolakan terhadap masa depan. Namun, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan bahwa masa depan bisa dirawat dengan prinsip leluhur. Mereka tidak menolak kehidupan yang lebih baik, tetapi menolak modernisasi yang merusak sendi budaya. Tantangan terbesar adalah bagaimana menghadirkan modernisasi yang ramah budaya, bukan memaksakan integrasi sepihak yang membuat identitas mereka luntur.

Pendekatan Bottom-Up

Dalam melakukan rekayasa sosial di Baduy Dalam, pendekatan bottom-up lebih tepat dibanding top-down. Solusi harus lahir dari bawah, bukan sekadar intervensi dari atas. Jika pendekatan top-down dipaksakan, besar kemungkinan akan melahirkan resistensi, bahkan konflik simbolik.

Ada tiga langkah yang dapat diterapkan. Pertama, layanan kesehatan sebaiknya dihadirkan melalui kerja sama dengan Puun (pemimpin adat), agar selaras dengan tata nilai Baduy. Menjadi penting karena di dalam komunitas masyarakat adat Baduy Dalam pernah ada yang terindikasi menderita penyakit TBC, banyaknya korban gigitan ular tanah dan lainnya. Dengan demikian, kesehatan tidak dipersepsikan sebagai intervensi asing, melainkan bagian dari kepedulian bersama. Kedua, pendidikan nonformal berbasis kearifan lokal. Jermias dkk (2024) menekankan bahwa pendidikan semacam ini dapat melahirkan agen budaya sekaligus pelestari adat. Pendidikan tidak hanya soal literasi baca tulis, melainkan juga transfer nilai agar anak muda Baduy mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar budaya. Ketiga, pemasaran produk Baduy dengan bantuan pihak ketiga yang dipercaya masyarakat. Contoh keberhasilan sudah terlihat melalui proyek “Roots of Baduy” (Kompas, 26/8/2025) yang memasarkan madu, kain tenun, dan tas lewat e-commerce. Proyek ini menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat bantu, bukan ancaman, asalkan digunakan sesuai kesepakatan adat.

Pendekatan semacam ini memungkinkan Baduy Dalam berkembang tanpa tercerabut dari identitasnya. Lebih jauh, menjaga Baduy bukan sekadar melestarikan eksotisme wisata budaya, melainkan juga mengingatkan dunia bahwa ada cara lain untuk hidup: pelan, bersahaja, tetapi bermartabat.

Dialog dan Pendampingan

Negara sejatinya telah berusaha hadir dengan cara yang lebih bersahabat. Pada 26 September 2025, Kapolda Banten bersama Gubernur, Ketua DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat dan perwakilan aliansi mahasiswa Cipayung Plus, melakukan kunjungan ke komunitas Baduy Luar dan Baduy Dalam. Perjalanan ke Baduy Dalam diawali dengan kegiatan bhakti kesehatan yang diikuti oleh 234 warga serta penyalurah 250 paket bantuan sosial. Selama di Baduy Dalam telah pula terjalin komunikasi dan penyampaian masalah dari masyarakat adat baduy dalam dengan Forkopimda.

Lebih penting dari sekadar bantuan, kehadiran Forkopimda bersama aliansi mahasiswa Cipayung Plus menjadi simbol dialog lintas elemen: negara, masyarakat adat, dan generasi muda. Kehadiran ini bukan untuk memaksa, melainkan mendampingi. Menyerap aspirasi dan mencari solusi, demi kesejahteraan masyarakat adat baduy dalam. Dialog semacam ini menjadi kunci agar Baduy tidak ditarik paksa ke arus modernisasi, tetapi juga tidak ditinggalkan dari hak-hak dasar mereka. Dengan pola pendampingan, negara dapat hadir sebagai mitra, bukan penguasa. ***

Tags: wacana publik
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Curug Putri Carita Pandeglang, Tawarkan Keindahan Alam yang Masih Terjaga

Next Post

Persita Optimis Menang Hadapi Raja Tandang PSIM di Super League 2025

Related Posts

Menggugat Sesat Pikir Implementasi Pancasila dari Hipogram Orde Baru Menuju Ruang Dialektika Papan Catur
Wacana Publik

Menggugat Sesat Pikir Implementasi Pancasila dari Hipogram Orde Baru Menuju Ruang Dialektika Papan Catur

by Redaksi
Senin, 1 Juni 2026 15:03

Penulis: Prastiyo Umardani, pengajar Pancasila tingkat SMA dan menjabat sebagai Sekjen lingkaR stUdi maSyarakat & Hukum (RUSH) HINGGA detik ini,...

Read moreDetails

Idul Adha, Teladan Keluarga Nabi Ibrahim

Haji dan Makna Perjalanan Spiritual 

Retaknya Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak

Menunaikan Janji, Merawat Marwah, Kado Indah Untuk Madrasah 

Puasa Proses Pembentukan Jati Diri

Puasa Mengikis Kesombongan

Tragedi Administratif Misbahul dan Fenomena Inses Birokrasi dalam Struktur Masyarakat Sipil

Ramadan, Momentum Penyucian Jiwa

Ramadan, Legitimasi Spiritual dan Sosial 

Next Post

Persita Optimis Menang Hadapi Raja Tandang PSIM di Super League 2025

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Lebak Memprihatinkan

Siswa SMAN 1 Cimarga Lebak Mogok Sekolah, Imbas Dugaan Kepsek Melakukan Penganiayaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

Kamis, 11 Juni 2026 10:20
Ketua STIT Al Khairiyah Ahmad Munji (kiri) menerima Surat Keputusan (SK) perubahan status menjadi Institut Agama Islam Al Khairiyah (Instal) dari Kepala Subdirektorat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Asro'i, di Kantor Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Jakarta, Rabu 10 Juni 2026.

Institut Al Khairiyah Resmi Berdiri, Institut Agama Islam Pertama di Kota Cilegon

Kamis, 11 Juni 2026 09:56
Ferry Renaldi saat di Mapolda Banten

Eks Pegawai PT Trimitra Minta Gelar Perkara Khusus, Dugaan Penggunaan Tanda Tangan pada Dokumen Kepabeanan

Kamis, 11 Juni 2026 09:47
Terharu, Pensiunan PNS Ini Sampaikan Syukur Usai Biaya Operasi Ditanggung Penuh BPJS Kesehahatan

Terharu, Pensiunan PNS Ini Sampaikan Syukur Usai Biaya Operasi Ditanggung Penuh BPJS Kesehahatan

Kamis, 11 Juni 2026 09:25
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Mas Amin dan Rasa Kopi

Kamis, 11 Juni 2026 07:37
Wakapolres Cilegon Kompol M Ridzky Salatun menyerahkan sepeda motor Honda Genio hasil pengungkapan kasus curanmor kepada pemiliknya, Rama Tamara, dalam konferensi pers di Mapolres Cilegon, Rabu 10 Juni 2026 sore.

Motor Curian Dikembalikan, Korban Apresiasi Kinerja Polres Cilegon

Kamis, 11 Juni 2026 07:32
Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

Kamis, 11 Juni 2026 10:20
Ketua STIT Al Khairiyah Ahmad Munji (kiri) menerima Surat Keputusan (SK) perubahan status menjadi Institut Agama Islam Al Khairiyah (Instal) dari Kepala Subdirektorat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Asro'i, di Kantor Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Jakarta, Rabu 10 Juni 2026.

Institut Al Khairiyah Resmi Berdiri, Institut Agama Islam Pertama di Kota Cilegon

Kamis, 11 Juni 2026 09:56
Ferry Renaldi saat di Mapolda Banten

Eks Pegawai PT Trimitra Minta Gelar Perkara Khusus, Dugaan Penggunaan Tanda Tangan pada Dokumen Kepabeanan

Kamis, 11 Juni 2026 09:47
Terharu, Pensiunan PNS Ini Sampaikan Syukur Usai Biaya Operasi Ditanggung Penuh BPJS Kesehahatan

Terharu, Pensiunan PNS Ini Sampaikan Syukur Usai Biaya Operasi Ditanggung Penuh BPJS Kesehahatan

Kamis, 11 Juni 2026 09:25
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Mas Amin dan Rasa Kopi

Kamis, 11 Juni 2026 07:37
Wakapolres Cilegon Kompol M Ridzky Salatun menyerahkan sepeda motor Honda Genio hasil pengungkapan kasus curanmor kepada pemiliknya, Rama Tamara, dalam konferensi pers di Mapolres Cilegon, Rabu 10 Juni 2026 sore.

Motor Curian Dikembalikan, Korban Apresiasi Kinerja Polres Cilegon

Kamis, 11 Juni 2026 07:32

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

Maling di Tanara Diamuk Massa, Bobol Rumah Kosong

by Fahmi
Kamis, 11 Juni 2026 10:20

SERANG, RADARBANTEN.CO.ID - JD (32) warga Kampung Kelutuk, Desa Kelutuk, Kecamatan Mekarbaru, Kabupaten Tangerang, babak belur setelah tertangkap tangan bobol...

Ketua STIT Al Khairiyah Ahmad Munji (kiri) menerima Surat Keputusan (SK) perubahan status menjadi Institut Agama Islam Al Khairiyah (Instal) dari Kepala Subdirektorat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, Asro'i, di Kantor Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Jakarta, Rabu 10 Juni 2026.

Institut Al Khairiyah Resmi Berdiri, Institut Agama Islam Pertama di Kota Cilegon

by Adam Fadillah
Kamis, 11 Juni 2026 09:56

CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Khairiyah resmi bertransformasi menjadi Institut Agama Islam Al Khairiyah (Instal). Perubahan...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak