SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Harga emas perhiasan menjadi salah satu pemicu utama inflasi di Provinsi Banten sepanjang Triwulan III 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Ameriza M Moesa menjelaskan, kenaikan harga emas dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat dan lonjakan harga emas dunia.
“Permintaan meningkat menjelang musim pernikahan dan investasi masyarakat juga naik, sehingga harga emas ikut terdorong,” ujarnya.
Menurut Ameriza, inflasi Banten tercatat 2,42 persen (yoy), lebih rendah dari nasional sebesar 2,68 persen (yoy), menunjukkan kestabilan harga tetap terjaga. Selain emas perhiasan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga berkontribusi terhadap inflasi, meski tekanannya cenderung menurun dibanding triwulan sebelumnya.
“Cabai merah, daging ayam ras, dan beras masih menjadi komoditas penyumbang utama inflasi bahan pangan,” jelasnya.
BI mencatat inflasi inti relatif stabil karena permintaan domestik masih kuat, sementara pasokan bahan pangan tetap terjaga.
Ameriza menegaskan, koordinasi dengan pemerintah daerah terus dilakukan untuk menjaga pasokan dan harga kebutuhan pokok agar inflasi tetap terkendali.
“Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) aktif memastikan ketersediaan pasokan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Ia menambahkan, tekanan inflasi dari emas diperkirakan bersifat sementara, seiring stabilnya harga global dan menurunnya permintaan musiman masyarakat.
“Secara umum, inflasi di Banten masih berada dalam sasaran nasional, menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Ameriza.
Editor: Mastur Huda











