PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di Kampung Batupayung, Desa Sorongan, Kecamatan Cibaliung — wilayah terpencil yang berjarak sekitar 212 kilometer dari Jakarta — hidup sebuah kisah pengabdian luar biasa. Sosok itu bernama Armani (43), guru yang telah mendedikasikan 17 tahun hidupnya untuk memberantas buta huruf di pelosok ujung Pulau Jawa.
Armani adalah guru kelas jauh SDN Sorongan 2. Ia menjadi satu-satunya tenaga pengajar bagi 23 siswa kelas 1 sampai kelas 6 yang belajar dalam satu ruangan reyot dengan fasilitas minim dan sanitasi tidak layak. Namun kondisi itu tak pernah memadamkan semangatnya.

Perjalanan 17 Kilometer, Dua Sungai, dan Lima Kilometer Jalan Kaki Tanpa Alas
Untuk mencapai sekolah, Armani menempuh perjalanan total 17 kilometer dari rumahnya.
Sebanyak 12 kilometer dilalui dengan sepeda motor, sisanya lima kilometer harus ia jalani dengan berjalan kaki melewati hutan, dua aliran sungai, dan jalan berlumpur — terutama saat musim hujan.
Salah satu sungai bahkan tidak memiliki jembatan, sementara satu lainnya hanya tersedia jembatan bambu hasil swadaya warga.
“Kalau musim hujan dan air meluap, kami tidak bisa menyeberang. Biasanya saya konfirmasi ke siswa untuk belajar di rumah atau diliburkan,” kata Armani, Jumat 28 November 2025.
Mengajar Sejak 2008: 17 Angkatan, 17 Tahun Pengabdian
Armani telah mengajar sejak 2008. Baginya, alasan terbesar bertahan selama hampir dua dekade adalah keprihatinan melihat banyak anak di Kampung Batupayung putus sekolah karena akses pendidikan sangat jauh.
“Melihat banyak siswa tidak melanjutkan SD, akhirnya SDN Sorongan 2 membuka kelas jauh di Batupayung. Sekarang ada 23 siswa,” ujarnya.
Antusiasme siswa adalah sumber semangat terbesar.
“Hampir 99 persen hadir setiap hari. Mereka sangat semangat belajar,” katanya.
Bahkan perhatian kecil dari siswa sering membuatnya terharu.
“Anak-anak suka membuatkan kopi, menyiapkan air, atau makanan kecil untuk saya. Itu bikin saya merasa dihargai,” ucapnya.
Perjuangan di Tengah Minimnya Fasilitas
Selain akses ekstrem, kondisi sekolah pun memprihatinkan: atap bocor, ruangan reyot, sarana belajar minim, dan tanpa sanitasi memadai.
Di musim hujan, anak-anak datang dalam keadaan pakaian berlumpur karena jalan menuju sekolah berupa tanah tanpa pengerasan.
“Prihatin lihat baju anak-anak kotor. Tapi semangat mereka luar biasa,” kata Armani.
Dukungan orang tua murid juga menjadi kekuatan utama agar kegiatan belajar tetap berjalan.
“Alhamdulillah orang tua sangat kompak mendukung pembelajaran,” katanya.
Panggilan Pengabdian
Dalam kesunyian hutan dan kerasnya perjalanan menuju sekolah, Armani tetap hadir untuk memastikan satu hal: anak-anak Batupayung tidak lagi putus sekolah.
Selama 17 tahun, ia menjadi cahaya kecil yang menerangi pelosok Banten.***
Editor : Krisna Widi Aria











