SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menjalin kerjsasama dengan sekolah dan tokoh agama di Kabupaten Serang untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak.
Berdasarkan data dari Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) Kabupaten Serang hingga 10 Febriari 2026, ada sebanyak 10 kasus kekerasan.
Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang, Haerofiatna mengatakan, hingga 23 Januari 2026, ada sebanyak 9 laporan kasus kekerasan pada anak yang masuk ke DKBPPPA. Kasus tersebut menimpa anak di usia 9 hingga 15 tahun.
“Mayoritas merupakan kasus kekerasan seksual,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 10 Februari 2026.
Selain itu, pihaknya juga menerima laporan kekerasan yang menimpa perempuan berusia 30 tahun, dimana ia menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang merupakan warga Kecamatan Tanara.
Pihaknya mengaku telah melakukan pendampingan terhadap seluruh seluruh anak dan perempuan yang menjadi korban kekerasan. Pendampingan yang diberikan baik berupa pendampingan hukum hingga pendampingan agar anak lepas dari trauma yang dialaminya.
Haero mengatakan, untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak, pihaknya bersama dengan satgas PPA akan menjalin kerjasama dengan sekolah dan tokoh agama.
“Kita akan melakukan MoU, intinya kita butuh masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual,” ujarnya.
Ia mengaku, melakukan sejumlah upaya di sekolah mulai dari sosialisasi, edukasi dan advokasi ke sekolah-sekolah agar anak-anak bisa memahami mengenai bagian tubuh mereka yang harus dijaga sehingga mereka bisa menjaga dirinya sendiri.
Selain menyasar sekolah formal, pihaknya juga mengaku menyasah pondok-pondok pesantren.
“Selain itu kita juga berkomunikasi dan berkolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama, PCNU dan tokoh agama untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual,” ujarnya.
Menurutnya, dalam upaya pencegahan kekerasan seksual, dibutuhkan langkah-langkah yang Terstruktur, sistematis dan masif (TSM) sehingga upaya yang dilakukan berjalan maksimal.
Ditargetkan ada sebanyak dua sekolah di setiap kecamatannya serta satu pondok pesantren yang akan menjadi sasaran sosialisasi tahun ini.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











