PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mencatat sebanyak 667 kasus campak terjadi hingga pekan ke-13 atau per 10 April 2026. Ratusan kasus tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di wilayah Pandeglang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Pandeglang, Dian Handayani mengatakan, tren kasus campak sempat meningkat sejak Februari 2026 sebelum akhirnya mulai menunjukkan penurunan.
“Data dari laporan mingguan puskesmas mencatat hingga minggu ke-13 ada 667 kasus campak. Peningkatan terjadi sejak minggu ke-7 di Februari dan sekarang mulai menurun,” kata Dian Handayani, Jumat 24 April 2026.
Dian menjelaskan, ratusan kasus tersebut masih berstatus suspek karena pada awal tahun belum dilakukan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh.
“Kasus ini berdasarkan gejala klinis. Saat itu belum ada konfirmasi laboratorium, namun sekarang Kementerian Kesehatan sudah kembali menerima sampel untuk pengujian,” ujarnya.
Adapun wilayah dengan kasus tertinggi di antaranya Kecamatan Labuan, Pandeglang, Kaduhejo, Jiput, Banjar, Cadasari, Cimanuk, Saketi, Menes, Majasari, Koroncong, dan Karangtanjung.
“Ini bukan berarti wilayah lain tidak ada kasus, tapi dipengaruhi keaktifan pelaporan petugas di lapangan,” jelasnya.
Menurut Dian, lonjakan kasus campak dipengaruhi siklus lima tahunan serta masih adanya anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
“Campak bisa dicegah dengan imunisasi. Kalau cakupan imunisasi tidak maksimal, akan muncul kelompok rentan yang menumpuk dan memicu lonjakan kasus,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga menyebabkan tidak terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga penularan penyakit lebih mudah terjadi di masyarakat.
Untuk menekan penyebaran, Dinkes Pandeglang melakukan sejumlah langkah, mulai dari penyelidikan epidemiologi hingga pelaksanaan imunisasi.
“Kami melakukan penyelidikan epidemiologi di setiap kasus. Selain itu, dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di empat kecamatan yakni Labuan, Koroncong, Kaduhejo, dan Jiput,” katanya.
Selain ORI, pihaknya juga melaksanakan imunisasi kejar bagi anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum lengkap status imunisasinya.
“ORI menyasar semua anak tanpa melihat status imunisasi, sedangkan imunisasi kejar hanya untuk yang belum lengkap,” jelasnya.
Dian mengakui, kendala sempat terjadi saat puncak kasus, terutama keterbatasan ruang isolasi di rumah sakit.
“Di lapangan relatif tidak ada kendala. Tapi saat puncak, rumah sakit sempat kewalahan karena ruang isolasi terbatas,” ujarnya.
Dari total 667 kasus, sebanyak 563 pasien atau sekitar 84 persen harus menjalani perawatan, sementara 95 kasus atau 16 persen tidak memerlukan perawatan.
“Ini menunjukkan campak tidak bisa dianggap sepele karena banyak yang mengalami komplikasi,” tegasnya.
Dinkes Pandeglang pun mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak sebagai langkah pencegahan utama.
“Satu-satunya cara efektif mencegah campak adalah imunisasi. Kami minta masyarakat memastikan anaknya sudah divaksin,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











