KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Di usia senja, Ernawati yang berusia 72 tahun masih harus berjuang mencari nafkah seorang diri. Warga asli Bayur, Sumatera Barat itu tinggal sebatang kara di sebuah kontrakan sederhana di Gang Musholah Al Muttaqim, Kampung Dadap, Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Sehari-hari, Ernawati mengais rezeki dengan memulung kardus bekas dari ruko-ruko di sekitar wilayah Serpong. Aktivitas itu dilakukannya sejak pagi hingga siang hari. Bahkan terkadang kembali keluar saat sore menjelang magrib.
“Nyari kardus di ruko-ruko. Berangkat pagi, pulang paling jam 11. Kadang kalau sore, pulangnya mau magrib,” ujar Ernawati, Jumat, 24 April 2026.
Kardus yang dikumpulkan tidak langsung dijual. Ia harus menunggu hingga terkumpul cukup banyak sebelum ditimbang ke pengepul. Dari hasil memulung selama hampir tiga minggu, Ernawati mengaku hanya mendapatkan sekitar Rp125 ribu. “Dari tanggal 4 sampai 24 itu dapatnya segitu. Kardus sama botol-botol,” katanya pelan.
Penghasilan tersebut tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih, ia harus membayar biaya kontrakan sebesar Rp500 ribu per bulan, belum termasuk kebutuhan listrik dan makan. “Buat bayar kontrakan,” ujarnya lirih.
Untuk menambah penghasilan, Ernawati juga sesekali berjualan kecil-kecilan seperti ikan asin dan bumbu dapur. Namun, keuntungan yang didapat sangat minim. “Untungnya kecil, satu renceng paling cuma seribu. Belum ongkos ke Parung Panjang buat belanja,” tuturnya.
Kondisi hidup Ernawati semakin memprihatinkan karena ia tinggal sendiri tanpa dukungan keluarga. Ia mengaku sudah lama tidak dikunjungi oleh anak-anaknya. “Enggak pernah datang,” katanya lirih.
Dalam kesehariannya, Ernawati juga menyempatkan waktu untuk mengaji, terutama di hari-hari tertentu saat tidak beraktivitas mencari barang bekas.
Tak Lagi Terima Bantuan dari Pemerintah
Meski hidup dalam keterbatasan, ia sesekali mendapatkan bantuan dari lingkungan sekitar. Ketua RT setempat pernah memberikan bantuan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng. Selain itu, ia juga menerima bantuan sembako dari salah satu perusahaan swasta. “Pernah dapat beras sama minyak. Dari RT sama perusahaan,” ujarnya.
Ia mengaku sudah tidak lagi menerima bantuan uang dari pemerintah tahun ini. Ia hanya mengingat pernah mendapatkan bantuan sebesar Rp300 ribu hingga Rp600 ribu pada tahun sebelumnya.
Kini, Ernawati hanya bisa bertahan dengan penghasilan seadanya dari hasil memulung dan berjualan kecil. Di usia 72 tahun, ia tetap berjuang menjalani hidup di tengah keterbatasan, tinggal di kamar kontrakan sempit berukuran sekitar 3×3 meter.
Kisah Ernawati menjadi potret nyata masih adanya warga lanjut usia yang harus bekerja keras demi bertahan hidup. Ernawati juga menjadi pengingat akan pentingnya perhatian dan bantuan berkelanjutan bagi masyarakat rentan.
Editor : Rostinah











