SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Gapura cup 2026 menjadi turnamen pertama untuk sepak bola putri di Kecamatan Cikeusal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampung Rahong, Kelurahan Cilayang Guha, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang dan diikuti oleh perwakilan peserta dari berbagai kecamatan mulai dari Cikeusal, Petir, Walantaka, hingga Pamarayan.
Ketua Panitia Gapura Cup 2026, Jaed, mengatakan, meski perdana dilaksanakan di Cikeusal, bahkan Kabupaten Serang, namun turnamen tersebut berhasil melampaui ekspektasi bahkan menghadirkan kemeriahan luar biasa bahkan disambut baik oleh masyarakat.
“Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kapolsek Cikeusal, Iptu Hairus Saleh, dan ramaikan oleh ribuan penonton dari berbagai kecamatan,” katanya, Senin 4 Mei 2026.
Ia mengatakan, turnamen Gapura Cup 2026 berjalan lancar dan meriah, kegiatan tersebut resmi selesai pada Sabtu 2 Mei 2026.
Kemeriahan kegiatan ini ditandai dengan hadirnya peserta lomba yang berasal dari berbagai kecamatan seperti Cikeusal, Petir, Walantaka, hingga Pamarayan.
“Antusiasmenya luar biasa. Kami tidak menyangka edisi perdana ini langsung mendapat tempat di hati masyarakat. Lapangan selalu penuh, energi penonton dan pemain benar-benar menyatu,” ujarnya
Ia menjelaskan, salah satu kunci kesuksesan Gapura Cup 2026 karena mengusung konsep yang uni. Turnamen yang dilaksanakan merupakan pertandingan sepak bola putri yang jarang digelar. Selain itu ada pula pertunjukan seni Pencak Silat dan Debus.
“Kami tidak hanya menyajikan pertandingan sepak bola, tapi kami juga hadirkan budaya asal Banten,” ujarnya.
Hal ini terbukti dari animo penonton yang dinilai sangat berhasil karena penonton tidak hanya tegang menonton pertandingan, tapi juga terhibur dengan atraksi budaya.
Kehadiran seni Pencak Silat dan Debus ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk melihat langsung kekayaan budaya lokal di tengah ajang olahraga modern.
“Selain menjadi ajang untuk menghidupkan semangat olahraga, Gapura Cup juga hadir sebagai wadah untuk mengangkat, memperkenalkan, dan melestarikan kesenian serta kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat,” ungkapnya.
Ia bersyukur, karena kesuksesan kegiatan juga berdampak bagi UMKM di Kabupaten Serang. Mereka mengalami peningkatan omzet yang signifikan seiring dengan banyaknya warga yang datang dari luar daerah.
“Lapak-lapak pedagang di sekitar area turnamen ramai pembeli, membuktikan bahwa event olahraga mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang nyata,” ujarnya.
Dengan berakhirnya turnamen Gapura Cup 2026 dan berjalan dengan kondusif, panitia pun berkeinginan untuk menjadikan agenda tersebut menjadi turnamen tahunan.
Turnamen ini telah membuktikan bahwa dari sebuah kampung serta semangat persatuan, pelestarian budaya, dan kemajuan ekonomi bisa digerakkan secara bersamaan melalui sepak bola putri.
“Gapura Cup 2026 bukan hanya tentang mencari juara, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan, membuka peluang usaha, serta membuka suasana yang hidup, ramai, dan penuh kebersamaan. Ajang yang menyatukan, menguatkan, dan menggerakan kebersamaan serta Ekonomi masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak










