CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Pelatih SSB Citra U-12, Totok Suprianto, menilai keputusan diskualifikasi yang dijatuhkan kepada timnya dalam ajang Piala Presiden Regional Kota Cilegon U-12 tidak melalui mekanisme yang semestinya.
Menurut Totok, selama kompetisi berlangsung tidak pernah ada persoalan terkait pemain yang diturunkan SSB Citra.
Seluruh nama pemain yang dimainkan tercantum dalam Formulir Penetapan Pemain (FPP) yang diterbitkan panitia.
“Di FPP itu saya memasukkan pemain berdasarkan namanya, jika ada namanya disitu maka saya akan mainkan ,dan semua pemain yang saya bawa ada namanya,” katanya.
Totok menjelaskan, sejak babak penyisihan hingga semifinal tidak pernah ada protes maupun keberatan terkait pemain SSB Citra.
Permasalahan baru muncul saat partai final melawan Duta Yunior. Bahkan, menurutnya, pertandingan sempat berjalan normal hingga memasuki awal babak kedua.
“Di babak pertama, kedua, delapan besar, semifinal, tidak ada masalah, begitu final mulai pertandingan tidak masalah, sampai babak kedua baru tiga menit Protes datang untuk pemain itu, tidak sama dengan fotonya,” ujarnya.
Menurut Totok, apabila terdapat keberatan dari salah satu tim, seharusnya ada mekanisme resmi yang ditempuh melalui panitia pertandingan maupun Komisi Disiplin.
Ia menilai panitia seharusnya melakukan verifikasi ulang terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang berdampak pada hasil pertandingan.
“Pertanyaan, yang lebih keras bicara tim official lawan, berarti kalo dia memprotes harusnya setelah pertandingan berhenti, disitu harusnya, harusnya meminta ke Komisi Disiplin (Komdis) yang ditentukan panitia,” katanya.
Totok menilai sebelum pengambilan keputusan mestinya ada proses verifikasi dan pembuktian terhadap dugaan yang dituduhkan.
“Harusnya kalo ada protes dia tampung bukan langsung eksekusi, sesuaikan dengan statuta pertandingan, kita ada manual pertandingan apa yang memberhentikan ada yang membuat diskualifikasi pada tim,” tambahnya.
Totok juga menyoroti proses verifikasi yang sebelumnya telah dilakukan panitia terhadap seluruh dokumen pemain.
Menurut dia, apabila terdapat kekeliruan administrasi berupa foto yang tertukar, maka hal tersebut semestinya menjadi bahan klarifikasi bersama, bukan langsung berujung pada diskualifikasi.
“Harusnya kalo ada protes dia tampung bukan langsung eksekusi, sesuaikan dengan statuta pertandingan, kita ada manual pertandingan apa yang memberhentikan ada yang membuat diskualifikasi pada tim,” tegasnya.
Ia bahkan mempertanyakan keputusan akhir panitia yang semula menyatakan SSB Citra sebagai juara kedua, namun kemudian menghilangkan nama tim tersebut dari daftar juara.
Editor: Bayu Mulyana











