CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memetakan potensi kandungan merkuri di Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kota Cilegon.
TPSA Bagendung menjadi salah satu lokasi proyek percontohan nasional dalam upaya meningkatkan pengelolaan merkuri di Indonesia melalui kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Project for Improvement of Mercury Management in Indonesia (PIMMI).
Tim ahli dari JICA bersama KLH melakukan pengambilan sampel untuk memetakan sebaran merkuri sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran yang diduga berasal dari aktivitas pengelolaan sampah.
Berdasarkan surat Direktorat Pengelolaan B3 Kementerian Lingkungan Hidup Nomor B.1081/G.3/PLB.4.2/06/2026 tertanggal 10 Juni 2026, kunjungan lapangan dilaksanakan pada 25-26 Juni 2026 di TPSA Bagendung.
Kegiatan tersebut meliputi survei lapangan, pemetaan sebaran merkuri, serta pengambilan sampel udara dan air di sekitar lokasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengatakan penelitian tersebut merupakan bagian dari kerja sama KLH dan JICA yang dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia.
“Informasi yang kami terima, penelitian ini juga dilakukan di Indocement dan Lampung. Jadi, Cilegon menjadi salah satu lokasi yang dipilih dalam proyek tersebut,” katanya, Senin, 29 Juni 2026.
Sabri menjelaskan, tim yang diterjunkan ke lapangan berjumlah sekitar 11 orang dan dikoordinasikan oleh Dr Abdul Rahman dari KLH serta Mr Satoshi Sasakura dari JICA.
Menurutnya, tim mengambil sampel di tiga titik yang mewakili area aktif maupun area tidak aktif di TPSA Bagendung.
Sampel tersebut akan dianalisis untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan merkuri di lokasi tersebut.
Selain mengukur kandungan merkuri, penelitian juga bertujuan mengetahui sejauh mana masyarakat telah melakukan pemilahan sampah yang mengandung merkuri.
“Yang ingin diketahui juga apakah masyarakat sudah memilah sampah yang mengandung merkuri, misalnya dari lampu bekas, baterai, atau barang elektronik lainnya,” ujarnya.
Ia menilai penelitian tersebut memberikan manfaat bagi Pemerintah Kota Cilegon karena dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kondisi lingkungan di TPSA Bagendung.
“Kalau nanti diketahui ada material yang mengandung merkuri atau tidak, itu menjadi data penting bagi kami untuk menyusun langkah pengelolaan lingkungan ke depan,” ucapnya.
Sabri menambahkan, hasil penelitian diperkirakan akan disampaikan sekitar dua bulan setelah seluruh sampel selesai dianalisis.*
Editor : Krisna Widi Aria











