SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Momentum peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 dimaknai sebagai langkah penting untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus mendorong transformasi koperasi agar lebih modern, digital, dan mampu bersaing di tengah perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Banten, Hasbi Sidik, usai menghadiri peringatan Hari Koperasi Nasional di Pendopo Gubernur Banten, Kota Serang, Rabu, 15 Juli 2026.
Hasbi mengatakan, dalam rangkaian Hari Koperasi Nasional tahun ini, Dekopinwil Banten telah menggelar sejumlah kegiatan, salah satunya webinar nasional bertema pengelolaan koperasi modern yang bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten.
Webinar tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Materi yang dibahas meliputi pengelolaan koperasi modern, strategi mencegah gagal bayar, hingga pentingnya sertifikasi dan perlindungan asuransi bagi koperasi.
Menurut Hasbi, Hari Koperasi harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali ekonomi kerakyatan yang berakar dari masyarakat. Terlebih, saat ini pemerintah tengah mendorong pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat di tingkat desa.
“Hari Koperasi ini menjadi momentum bagaimana kita memperbaiki ekonomi kerakyatan. Dengan hadirnya Koperasi Desa Merah Putih, ekonomi rakyat di tingkat bawah harus semakin kuat dan berkembang,” ujarnya.
Hasbi menilai koperasi memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Karena itu, penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus terus menjadi perhatian.
Selain itu, Dekopinwil Banten bersama Pemerintah Provinsi Banten juga mendorong koperasi menjadi solusi layanan keuangan yang sehat bagi masyarakat maupun aparatur sipil negara (ASN).
Ia mengungkapkan, dalam berbagai kesempatan Wakil Gubernur Banten juga memberikan perhatian terhadap penguatan koperasi di lingkungan ASN. Kehadiran koperasi dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan anggotanya secara legal dan terjangkau sehingga mengurangi risiko masyarakat maupun ASN terjerat pinjaman online ilegal.
“Koperasi itu dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Jangan sampai ASN atau masyarakat terjebak pinjol karena sebenarnya koperasi bisa menjadi alternatif yang lebih sehat,” katanya.
Hasbi menambahkan, tantangan koperasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, koperasi harus meninggalkan pola lama dan mulai melakukan transformasi digital agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Tantangan koperasi saat ini adalah peningkatan SDM dan digitalisasi. Kita harus memperbaiki kualitas koperasi agar tidak berjalan seperti pola lama,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama ini koperasi kerap identik dengan kegiatan simpan pinjam. Padahal, perkembangan kebijakan pemerintah, termasuk pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, membuka peluang yang lebih luas bagi koperasi untuk mengembangkan berbagai sektor usaha produktif.
“Koperasi sekarang tidak bisa hanya mengandalkan simpan pinjam. Kita harus lebih kreatif dalam mengembangkan usaha dan mampu menangkap peluang ekonomi yang ada di masyarakat,” jelasnya.
Menurut Hasbi, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih sangat bergantung pada kemampuan pengurus dalam mengelola potensi daerah, memasarkan produk lokal, serta menghadirkan layanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
“Koperasi harus mampu berinovasi dan kreatif. Bagaimana produk-produk masyarakat bisa dipasarkan dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi anggota. Itu yang harus terus diperkuat,” tuturnya.
Melalui momentum Hari Koperasi Nasional 2026, Dekopinwil Banten berharap koperasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Banten, dapat tumbuh menjadi lembaga ekonomi yang modern, profesional, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan di era digital.*
Editor : Krisna Widi Aria











