SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026.
Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan, strategi yang disiapkan meliputi penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 32, penerapan sistem tumpang sari, penanaman komoditas palawija di lahan kering, hingga penyesuaian pola tanam berdasarkan kalender iklim.
“Kami mendorong petani mulai menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti Inpari 32. Selain itu, pola tanam juga harus disesuaikan dengan kondisi iklim agar risiko gagal panen dapat ditekan,” ujar Saiful, Kamis, 16 Juli 2026.
Selain itu, pemerintah juga menjajaki pemanfaatan sumur dalam sebagai sumber air alternatif bagi wilayah yang belum memiliki jaringan irigasi.
Menurut Saiful, penyediaan sumber air menjadi salah satu fokus pemerintah untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah musim kemarau.
“Untuk wilayah yang tidak memiliki irigasi permukaan, kami juga sedang mengoordinasikan kemungkinan pemanfaatan sumur dalam sebagai solusi jangka panjang,” katanya.
Di tingkat lapangan, UPTD BPTPHP terus melakukan monitoring, pompanisasi, serta koordinasi bersama penyuluh pertanian dan kelompok tani di sejumlah kecamatan terdampak seperti Jawilan, Petir, Tirtayasa, dan Bandung.
Koordinasi juga dilakukan dengan penyedia benih guna mengantisipasi kemungkinan puso apabila kekeringan terus meluas.
“Rencana tindak lanjut sedang diproses dan dikoordinasikan dengan Korluh, penyuluh, kelompok tani, termasuk koordinasi dengan perbenihan untuk memastikan ketersediaan benih apabila terjadi puso,” tutup Saiful.
Editor Daru










