SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Fenomena El Niño yang semakin menguat mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Provinsi Banten. Hingga 10 Juli 2026, Dinas Pertanian Provinsi Banten mencatat sebanyak 1.139 hektare lahan padi mengalami kekeringan.
Dari total tersebut, 937 hektare mengalami kekeringan ringan, 117 hektare kategori sedang, dan 85 hektare mengalami kekeringan berat. Sebanyak 28,5 hektare telah pulih setelah turun hujan, sementara 400 hektare berhasil dipanen lebih awal dan 320 hektare masih terancam mengalami puso.
Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan dampak paling besar yakni mencapai 593 hektare. Disusul Kabupaten Serang sebanyak 451 hektare, Kabupaten Tangerang 81 hektare, dan Kabupaten Lebak 14 hektare.
Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan sebagian besar lahan terdampak merupakan sawah tadah hujan yang tidak memiliki jaringan irigasi.
“Tanpa pasokan air dari saluran irigasi, satu-satunya harapan petani adalah hujan yang belum juga turun,” katanya, Kamis 15 Juli 2026.
Katanya, hasil monitoring Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) menunjukkan sebagian besar lokasi terdampak tidak memiliki sumber air yang memadai.
Selain curah hujan yang minim, sumber air di sekitar sawah juga mulai mengering atau berada terlalu jauh sehingga menyulitkan proses pompanisasi.
“Kondisi itu menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian menjadi tidak optimal,” ujarnya.
Sebagai langkah darurat, pemerintah melakukan pompanisasi serta memanfaatkan selang air dari sumber air terdekat.
Namun, di Kecamatan Tirtayasa, panjang selang 100 meter yang dipinjamkan melalui UPTD BPTPHP belum mampu menjangkau petakan sawah yang berada sekitar 900 meter dari sumber air.
Editor Daru











