SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Panggung Satu Asa Radar Banten di Kota Serang kembali menghadirkan pertunjukan seni yang menarik perhatian masyarakat. Kali ini, Campursari Banyu Mili tampil memukau dengan membawakan musik khas Jawa yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Penampilan Campursari Banyu Mili menjadi salah satu sajian yang menghibur penonton. Perpaduan alunan musik tradisional Jawa dengan sentuhan musik modern dikemas secara apik sehingga menciptakan suasana pertunjukan yang dinamis dan atraktif.
Antusiasme penonton terlihat sepanjang penampilan. Musik yang dimainkan tidak hanya menghadirkan nuansa budaya Jawa, tetapi juga mampu dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat yang hadir di Panggung Satu Asa.
Owner Campursari Banyu Mili, Yayun, mengatakan grup musik yang dipimpinnya telah berdiri sejak 2008. Hingga kini, Campursari Banyu Mili tetap eksis dan memiliki penikmat dari berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat Jawa.
“Campursari itu multikultur. Artinya seluruh musik bisa masuk. Mau musik apa saja bisa masuk. Kemudian dari penampilan para penyanyi itu mungkin lebih berkesan bagi masyarakat,” ujar Yayun, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, karakter campursari yang terbuka terhadap berbagai jenis musik membuat kesenian tersebut dapat diterima masyarakat luas. Hal itu pula yang membuat Campursari Banyu Mili berkesempatan tampil di berbagai daerah.
Untuk wilayah Banten, kata Yayun, Campursari Banyu Mili telah beberapa kali tampil, salah satunya di kawasan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Bahkan, grup musik tersebut juga pernah tampil di sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.
Yayun berharap semakin banyak ruang pertunjukan yang dapat menjadi wadah bagi para pelaku seni untuk berkarya. Menurutnya, ruang-ruang pertunjukan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan musik tradisional sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat.
“Harapan kita ke depan, ruang-ruang kecil seperti ini memang harus selalu ada, terutama untuk musik tradisi. Bukan hanya campursari, tetapi seluruh musik tradisi harus dieksplor,” katanya.
Ia menilai Banten memiliki banyak potensi kesenian tradisional yang belum sepenuhnya terekspos. Karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar para seniman memiliki ruang untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan seni tradisi kepada generasi muda.
“Di Banten ini sepertinya banyak sekali wadah-wadah kesenian yang memang belum banyak terekspos,” ujarnya.
Yayun juga mengapresiasi penyelenggaraan Panggung Satu Asa Radar Banten yang dinilai telah memberikan ruang bagi pelaku seni untuk tampil dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan.
Menurutnya, kepedulian terhadap seni tradisional juga perlu terus diperkuat oleh pemerintah. Ia mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Serang terhadap keberadaan musik tradisi dan berharap dukungan serupa dapat diikuti pemerintah daerah lainnya.
“Radar Banten ini luar biasa gerakannya. Terutama Pemerintah Kota Serang yang masih peduli dengan musik-musik tradisi. Kami berharap seluruh lini pemerintahan, bukan hanya di Serang, tetapi daerah lainnya juga mengikuti jejak ini,” tuturnya.
Yayun menilai kehadiran Panggung Satu Asa menjadi langkah positif dalam memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk terus berkembang di tengah perubahan zaman.
“Ini awal yang bagus dan harapan kita ke depan semoga bisa terus eksis. Untuk Radar Banten, tambah sukses, pokoknya joss,” pungkasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











