SERANG – Banjir air bah melanda Kampung Pejaten, Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Selasa (29/3/2016). Air bah dari lereng Gunung Pinang membuat puluhan rumah di kampung ini terendam air setinggi sekira lutut orang dewasa.
Tragisnya, seorang anak perempuan bernama Riska Ismiyanti (8) hampir menjadi korban keganasan air bah. Riska hanyut ke dalam parit dan hampir kehilangan nyawa karena terbawa ke dalam gorong-gorong. Beruntung sejumlah warga berhasil menyelamatkan nyawa anak dari pasangan suami istri Iis (32) dan Tono (38) ini.
Informasi yang dihimpun, kejadian ini bermula ketika hujan lebat mengguyur Kecamatan Kramatwatu sekira pukul 15.00 WIB. Hujan turun tanpa henti memicu air dalam jumlah banyak mengalir deras dari arah Gunung Pinang setelah 30 menit berlalu. “Dari arah gunung, air campur lumpur dalam jumlah banyak turun. Airnya semakin meninggi, akhirnya kami kebanjiran,” ujar Maryani, salah satu warga, seperti dilansir Harian Radar Banten.
Daerah Pejaten, kata Maryani, dilintasi saluran irigasi jaringan Bendung Pamarayan. Ia menengaskan, banjir saat itu bukan dari air irigasi yang meluap. “Air irigasinya sih normal, tapi air dari atas gunung yang bikin rumah kami kebanjiran. Bahkan, air bah ini tumpah ke saluran irigasi,” jelasnya.
Satu jam berlalu, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Curah hujan menurun, warga mulai sibuk mengeluarkan air dari rumah mereka. Namun, di saat yang sama Riska tercebur ke dalam parit. “Sewaktu banjir, parit tidak kelihatan karena tertutup air. Anak itu tidak tahu kalau ada parit, dia jalan lalu tercebur dan hanyut,” katanya.
Riska sempat terbawa arus air dalam parit sepanjang beberapa meter. Murid kelas I SDN Pejaten, Kramatwatu, Kabupaten Serang, ini pun menelan banyak air. Bahkan, Riska hampir tertelan sebuah gorong-gorong di bawah jembatan beton. Untungnya, Maryani melihat Riska dan berusaha menolongnya. “Saya tangkap badan anak itu sebelum masuk gorong-gorong,” katanya.
Namun, Maryani kesulitan untuk mengangkat tubuh Riska sebab aliran air yang deras menarik badan anak tersebut dengan kuat. Situasi semakin genting sebab seorang anak bernama Gufron (11), loncat ke dalam parit dan hampir ikut terseret ke dalam gorong-gorong. “Maksudnya mau menolong, tapi airnya kan deras. Akhirnya Gufron juga hampir tertelan air di gorong-gorong. Makanya, kami jadi semakin panik,” ujarnya.
Untungnya, sejumlah warga datang menolong dan menarik kedua anak ini. Iis, ibu dari Riska merasa bersyukur anaknya diselamatkan. “Untung ada tetangga yang melihat. Kalau tidak, anak saya bisa jadi korban banjir,” ujarnya. (RB/quy/alt/dwi)








