CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kenaikan harga plastik di Kota Cilegon mulai dirasakan pelaku usaha, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lonjakan harga ini disebut-sebut dipicu oleh dampak konflik global antara Iran dan Amerika Serikat yang memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon, Didin Supriatna Maulana, mengatakan bahwa komoditas plastik memang sangat bergantung pada kondisi global.
“Kalau plastik itu memang terpengaruh kondisi global. Paling terasa dampaknya ke UMKM, karena plastik ini bukan bahan pokok, tapi penunjang untuk kemasan,” ujar Didin, Senin 20 April 2026.
Ia menjelaskan, banyak pelaku UMKM yang mengandalkan kemasan plastik untuk produk makanan dan minuman yang dijual dengan harga terjangkau.
Kenaikan harga plastik berpotensi memengaruhi harga jual produk di pasaran.
“Misalnya makanan yang biasa dijual Rp2 ribu, bisa saja ikut naik. Tapi untuk produk jadi, kemungkinan kenaikannya tidak lebih dari 5 persen,” katanya.
Didin juga mengakui, pihaknya tidak secara khusus memantau harga plastik karena fokus pengawasan Disperindag lebih diarahkan pada bahan pokok penting (bapokting).
“Untuk plastik sendiri memang tidak kami pantau secara khusus, karena yang kami awasi itu bahan pangan pokok,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu pedagang makanan di Cilegon, Ipong, mengaku kenaikan harga plastik terjadi secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Plastik PE yang biasanya Rp8 ribu sekarang jadi Rp12 ribu. Kresek Dayak dari Rp13 ribu jadi Rp18 ribu. Wadah bubur juga dari Rp23 ribu naik jadi Rp35 ribu,” ungkapnya.
Ia menyebut, kenaikan harga plastik tersebut cukup memberatkan pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik untuk menjual produknya.
“Gila-gilaan itu naiknya. Kita juga sebagai masyarakat butuh makan. Jangan sampai kondisi ini bikin ekonomi makin sulit,” keluhnya.
Editor Daru










