SELAMA 21 tahun menikah, bukan jaminan seorang laki-laki akan tetap setia dan tidak menikah lagi. Itu terjadi pada Udi dan Ita, keduanya nama samaran. Hanya karena bersumpah akan menikah lagi jika sang istri tidak melahirkan anak ketiganya berjenis kelamin laki-laki, Udi seenaknya menikah lagi. Padahal anak ketiganya laki-laki. Kok bisa?
Ita memang jenis ibu rumah tangga tulen. Setiap hari hanya mengurus kedua anak dan Udi. “Saat itu suami saya bilang, Mah, kalau anak ini bukan laki-laki saya menikah lagi saja yah,” Ita bercerita.
Saat itu kata Ita, sang suami memang sedang bercanda. Makanya ia pun menjawab dengan tidak serius. “Ya silakan saja kalau berani,” begitu tantang Ita.
Jujur, Ita merasa was-was. Kalau sampai anak ketiganya berjenis kelamin perempuan, jangan-jangan Udi benar akan menikah lagi. Makanya, Ita sangat lega dan merasa terselamatkan dengan lahirnya anak ketiga berjenis kelamin laki-laki ini karena suaminya tidak akan menikah lagi. Tetapi petaka tak bisa dihindari.
“Saya bingung setelah melahirkan anak ketiga ini, suami saya justru jarang pulang,” ucap Ita menyikapi suaminya yang sudah seperti Bang Toyib itu.
Ita memang sangat cemas, belakangan ini suaminya jarang pulang. Namun Ita selalu sabar dan percaya kepada suaminya yang selalu mengatakan kalau ia sibuk dengan pekerjaannya hingga membuat jarang pulang.
Hingga akhirnya Udi pun pulang ke rumah. Namun sikapnya aneh, berubah emosional. Ita bingung pada perubahan itu. Ita seperti tidak mengenali Udi lagi. Setiap Ita bertanya tentang sikapnya ini, Udi selalu menjawab dia hanya terlalu lelah dengan pekerjaan.
Rupanya Udi tidak pernah menceritakan apa yang terjadi selama ini dan selalu menyembunyikan masalah kepada keluarganya. Udi khawatir jika menceritakan semuanya, keluarganya akan hancur begitu saja.
“Ketika suami saya pulang, saya tidak sengaja membuka handphone suami dan kebetulan ada yang kirim SMS,” Ita menceritakan secara detail. Pesan tersebut dikirim perempuan berusia kurang lebih 25 tahun. Sebut saja perempuan itu Nur.
“Mas, Adit (bukan nama sebenarnya) badannya panas,” Isi pesan yang dikirim Nur.
Adit ini ternyata anak hasil pernikahan Udi dan Nur. Mengetahui hal ini, Ita shock dan langsung membanting handphone milik suami. Seisi rumah pun kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi, tidak terkecuali Udi. Ita langsung menangis, sontak membuat orang-orang di sekitarnya mendekat. Bukannya menenangkan Ita, Udi justru memarahi. Tak mau kalah, Ita kembali memarahi Udi dan meminta penjelasan isi SMS yang dikirim Nur. Udi hanya diam, bingung harus menjawab apa.
Setelah keadaan sudah mencair Udi memberanikan diri menceritakan bahwa selama ini dirinya sudah menikah dengan Nur. “Saya kenal Nur sudah cukup lama. Awal perkenalan kita di Facebook. Pada saat itu Nur sedang di Arab Saudi menjadi TKI. Akhirnya saya bertemu dengan Nur ketika mengantar anak saya kuliah di Ciracas, kebetulan Nur tinggal di Ciracas,” cerita Udi di tempat lain.
Setelah bertemu, kata Udi, Nur memaksa untuk dinikahi. “Awalnya saya juga menolak untuk menikahi Nur, tapi orangtua Nur meminta pertanggungjawaban, karena uang Nur sudah saya habiskan. Jadi mau bagaimana lagi, biaya hidup saya dan keluarga selama ini ditanggung Nur. Selama Nur menjadi TKI saya selalu dikirimi uang setiap bulan,” kata Udi.
Udi bilang, dirinya menikah dengan Nur saat Ita hamil anak ketiga, Ita semakin tidak terima dengan perlakuan suaminya. Lagipula Udi tidak tega mengabarkan pada Ita yang saat itu hamil anak ketiga mereka kalau Udi sudah menikah lagi.
“Saya kira anak ketiga akan perempuan lagi, jadi saya pikir ini bisa jadi alasan menikah lagi. Tapi kenyataannya salah. Anak ketiga kita ternyata laki-laki, jadi mau bagaimana lagi sudah terlanjur,” kata Udi.
Nasi sudah menjadi bubur. Ita bingung harus melakukan apa ketika mendengar biaya hidup keluarganya ternyata hasil kerja keras Nur.
“Awalnya saya sangat marah dan tidak terima dengan keputusan suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan saya, begitupun dengan anak-anak saya,” tegas Ita. “Tetapi setelah melihat sikap Nur kepada saya dan anak-anak saya baik, saya mengizinkan suami menikah lagi, begitupun dengan anak-anak saya yang sudah menerima jika mereka memiliki dua ibu,” lanjut Nur.
Ita mengaku, alasan menerima Nur sebagai madunya bukan karena materi yang ia dapat untuk biaya hidup selama ini. “Saya menerima Nur karena sikapnya yang baik dan sopan terhadap keluarga saya, materi bukanlah segalanya,” lanjut Ita.
Seiring berjalannya waktu, Ita pun menerima suaminya memiliki dua istri. Ita berpikir jika itu yang terbaik untuk suaminya, itupun keputusan terbaik untuk keluarganya. (Devi-PPL/Radar Banten)








