SERANG – Peran mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat dirasakan mulai terpinggirkan karena tidak mampu lagi merespons persoalan dan membantu mencarikan solusi atas kondisi bangsa, negara, dan daerah di tempat tinggalnya.
Hal itu disampaikan Alamsyah Basri saat menjadi pembicara pada diskusi publik Perhimpunan Perempuan Pelopor Anti Radikalisme (P3AR) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Banten, Kamis (20/10), di Kota Serang.
Menurut dia, perilaku mahasiswa kekinian tidak mencerminkan kaum terdidik. Hal itu karena hampir sebagian besar mahasiswa tidak merespons kebijakan pemerintah yang dinilai masih banyak tumpang tindihnya.
Jika gerakan mahasiswa tidak lagi merespons persoalan itu, secara perlahan-lahan muncul dan dimanfaatkan oleh kelompok lain, misalnya muncul gerakan radikalisme.
“Peranan mahasiswa sangat penting untuk menangkal radikalisme. Gerakan mahasiswa memiliki sejarah tersendiri, misalnya mewujudkan reformasi di Indonesia tahun 1998 silam,” ungkap Alamsyah.
Ia merasa dan melihat secara kasat mata respons mahasiswa terhadap pembangunan di daerah sangat minim. Justru respons lebih banyak dilakukan oleh organisasi yang digagas oleh kelompok tua. “Itu bisa dibuktikan dalam setiap pengawalan kebijakan daerah, yang vokal mengkritisi pemerintah bukan mahasiswa, melainkan para stackholder yang umurnya tidak muda lagi,” ungkap mantan anggota Komisi Informasi Publik Banten ini.
“Yang namanya agen perubahan itu harus aktif bukan pasif. Perubah itu pendorong, bukan penarik. Oleh karena itu kita butuh mahasiswa yang memiliki idealisme besar dan pemikiran yang besar pula,” ucapnya.
Kondisi itu, menurutnya, karena semua mahasiswa di Indonesia. termasuk di Banten, terjebak dengan keadaan di internal lembaganya. Hal-hal kecil, seperti demonstransi di kampus sering dilakukan. Sedangkan respons terhadap situasi dan kondisi daerahnya tidak dilakukan. (Ade F)










