Seorang ayah adalah pahlawan bagi anak-anaknya, ia adalah role model yang pasti ingin ditiru. Seperti halnya Juned (32), nama samaran, memiliki ayah beristri lebih dari satu, membuatnya ikut-ikutan juga berpoligami. Sayang nasib Juned tidak sesukses ayahnya, ia babak belur setelah membina mahligai dengan istri-istri yang materialistis.
Karena cita-cita itu, Juned sempat menyia-nyiakan kasih sayang Sinta (29), nama samaran istri pertama. Meskipun pada akhirnya Juned kembali menjadi satu-satunya suami Sinta, namun perjalanan poligami Juned lumayan menarik untuk diikuti. “Saya ingin sekali seperti ayah, tapi saya bukan dia. Mungkin kurang bakat berpoligami, atau kurang beruntung, entahlah,” kata Juned.
Juned baru saja menceraikan Ijah (24), dan Dina (27), keduanya nama samaran. Istri ketiga dan kedua Juned ini didakwa hanya ingin harta Juned. Sebagai anak seorang kontraktor sukses, Juned memang lahir dengan anugerah harta melimpah. Itulah daya tarik Juned di mata Ijah dan Dina. “Kapok saya melayani dua perempuan itu. Gara-gara mereka, saya sampai kurang memerhatikan Sinta dan anak-anak,” aku Juned.
Sejak menikah dengan kedua wanita ini, Juned yang menggeluti bisnis properti mengaku sering mengalami kerugian. Uang yang telah ia simpan banyak yang menghilang tanpa jejak, pelakunya adalah dua mantan istrinya. “Mereka memanfaatkan saya untuk kepentingan mereka. Lebih sakitnya, ternyata uang yang mereka kuras dipakai untuk bersenang-senang dengan para selingkuhan mereka,” jelas Juned.
Latar belakang pertemuan Juned dengan Ijah dan Dina, memang berbeda dengan Sinta. Dengan Sinta, ia dijodohkan sang ayah, sementara Ijah dan Dina ia dapatkan selama menjalani bisnis properti. “Beberapa kali berbisnis, rekan kerja sering membawa perempuan. Nah, Ijah dan Dina ini dikenalkan oleh teman-teman relasi. Karena mereka mau dijadikan istri kedua dan ketiga, makanya saya bersemangat,” katanya.
Awalnya Juned yakin bisa menjalani rumah tangga poligami. Ia mengira darah ayahnya mengalir kental di setiap urat nadi. Mungkin darah Juned dan sang ayah memang sama. Namun darah para ibu tiri Juned berbeda dengan Ijah dan Dina. “Kalau istri-istri ayah saya niatnya memang ingin poligami. Makanya keluarga besar ayah tidak pernah bermasalah seperti saya,” ujarnya.
Juned kemudian menceritakan sosok ayahnya dengan bangga. Meskipun sang ayah punya istri lebih dari satu, tapi rumah tangganya sangat membahagiakan. Ibu kandung dan kedua ibu tirinya hidup rukun dan damai. Bahkan Juned merasakan siraman kasih sayang dari tiga ibunya itu. “Ibu-ibu tiri saya baik semua, tidak ada yang jahat. Saya sangat dekat dengan saudara-saudara beda ibu, pokoknya keluarga besar ayah luar biasa,” katanya.
Sang ayah pun terkenal dengan perilaku adil terhadap ketiga istrinya. Kalau istri pertama dibelikan perhiasan, istri kedua dan ketiga juga dibelikan perhiasan yang sama. Termasuk semua anak-anak ayah Juned. Ketika Juned dibuatkan rumah beserta isinya plus mobil mewah, sang ayah pun membelikan hal yang sama dengan seluruh anak-anaknya. “Tidak pernah ada yang protes terhadap kebijakan ayah. Seandainya yang dibelikan perhiasan hanya istri pertama, istri kedua dan ketiga tidak pernah protes. Begitu juga sebaliknya,” tutur Juned.
Sebagai anak dari istri pertama, Juned tidak jarang main di kediaman istri kedua dan ketiga ayahnya. Setiap menginap di rumah ibu tiri, Juned mendapatkan kasih sayang yang sungguh luar biasa.
Bahkan sampai saat ini, kedua ibu tiri tetap memberikan dukungan. Bukan hanya berbentuk perhatian, namun juga harta. “Saya merasa beruntung memiliki keluarga besar seperti ini,” katanya.
Karena itulah, Juned termotivasi untuk menciptakan keluarga besar seperti yang telah dibangun oleh ayahnya. Sayang, jalan cerita Juned jauh panggang dari api. Saat menikah dengan Ijah dan Dina, kedua istrinya ini sering minta macam-macam. Mereka juga selalu menuntut ini dan itu. Wah, Juned kurang beruntung sepertinya. “Awalnya minta mobil, saya berikan. Lalu mereka sering minta uang belanja, sekali belanja jutaan rupiah,” kata Juned.
Gara-gara kelakuan dua orang ini, Juned terancam bangkrut setelah usia pernikahan dengan Ijah dan Dina hampir mencapai dua tahun. Untung ia mendapat pencerahan dari kedua ibu tiri, sehingga Juned dengan mantap menceraikan dua istrinya ke pengadilan agama. “Kata ibu tiri saya, mereka tidak niat membentuk keluarga baik-baik. Tapi hanya ingin uang saya. Mereka bilang lebih baik fokus berumah tangga dengan Sinta. Karena itulah saya menceriakan Ijah dan Dina. Sekarang saya ingin menjadi suami sempurna bagi Sinta,” kata Juned. (Sigit/Radar Banten)











