SERANG – Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Toyalis mengatakan, bahwa 20 persen masyarakat Kota Serang masih mengkonsumsi garam yang tidak beryodium.
“Tahun 2016 ini, sekitar 80 persen masyarakat Kota Serang mengkonsumsi garam beryodium, sebelumnya 72 persen tahun lalu. Artinya 20 persen masyarakat masih mengkonsumsi garam yang tidak mengandung yodium,” kata Toyalis, kepada wartawan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (31/5).
Toyalis mengatakan, seharusnya memang semua masyarakat harus sudah mengkonsumsi garam beryodium, namun setelah dilakukan pengecekan ternyata masih ada yang belum mengkonsumsi garam beryodium.
“Kita ke masyarakat melalui petugas dengan melakukan random (pengecekan acak) pada 1.800 warga di Kota Serang,” kata Toyalis.
Lebih lanjut, Toyalis mengatakan, bahwa untuk mempermudah warga membedakan garam yang menggunakan yodium atau tidak, paling sedernaha dari warna garam. Secara fisik garam beryodium berwarna putih, sedangkan yang tidak mengandung yodium berwarna ke ungu-unguan.
“Dampak tidak mengkonsumsi garam beryodium itu berdampak jangka panjang, berpengaruh terhadap kecerdasan dan tumbuh kembang fisik,” katanya.
Toyalis mengatakan, bila ditemukan pedagang yang masih menjual garam tidak beryodium, maka sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2014 tentang Garam Beryodium, petugas penegak Perda bisa menarik peredaran tersebut. (Fauzan Dardiri)










