PANDEGLANG – Enjum Jumhana (63), peternak lebah madu teuweul di Kampung Kadulisung RT 01 RW 05, Kelurahan Pandeglang, mendambakan perhatian. Enjum mengatakan, tiga tahun menggeluti usaha sebagai peternak lebah madu belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemkab.
“Jangankan bantuan dana, bantuan pembinaan juga belum ada. Sementara, kalau dimanfaatkan mah iya. Madu-madu yang sudah dipanen per tiga bulan sekali kerap dipamerkan di Alun-alun Berkah untuk promosi daerah,” kata Enjum saat ditemui di kediamannya, Kamis (1/9).
Pensiunan pegawai Kelurahan Pandeglang empat tahun lalu, mengklaim madu hasil penangkarannya merupakan madu murni, dengan kandungan multivitamin dan mineral. “Saya berharap, Pemkab Pandeglang mau memperhatikan perajin madu lebah seperti saya ini, karena potensinya bisa mengangkat nama baik Pandeglang,” katanya.
Enjum menerangkan, beternak lebah madu, pengemasan hingga pada pemasaran tidak sulit. “Memang harga jualnya relatif murah, saya per botol ukuran 150 mililiter hanya Rp50 ribu,” katanya.
Terpisah, Lurah Pandeglang Eka Rahmawijaya menerangkan, di daerahnya peternak lebah madu banyak. Kegiatan usaha itu bukan hanya di satu titik, Kampung Kadulisung, tetapi juga di Kampung Gardutanjak, yakni peternak lebah madu tawon. “Kalau di tingkat desa kita kerap memberikan perhatian, walau hanya sekadar pembinaan saja agar peternak bersemangat,” terangnya.
Eka berjanji akan menyampikan keluhan para peternak, terkait belum adanya perhatian. “Nanti kita usulkan, agar Diskoperindag (Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan-red) mau melegalkan sebagai kelompok UMKM, dan mau melakukan pembinaan terhadap seluruh peternak lebah,” katanya. (Herman/Radar Banten)









