PANDEGLANG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pandeglang, diakui masih tinggi. Tahun ini, dari Januari hingga Juli ada sebanyak 544 orang yang sakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti, delapan di antaranya meninggal dunia. Selain karena faktor cuaca, banyaknya warga yang terserang penyakit tersebut, diduga karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan.
Staf Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Kabupaten Pandeglang Darmadi mengatakan, warga yang tinggal di selatan Kabupaten Pandeglang sangat rentan terserang DBD, karena kondisi wilayah yang dekat dengan laut. Misalnya, di Kecamatan Panimbang yang tercatat ada sebanyak 101 warga yang terserang, dan satu orang di antaranya meninggal dunia. “Kecamatan Panimbang dan Kecamatan Labuan adalah daerah endemis DBD kalau dilihat dari jumlah kasus yang ditangani oleh kami (Dinkes-red),” katanya, kemarin.
Namun, kata Darmadi, meski banyak warga Pandeglang yang menderita DBD, tetapi masalah itu belum bisa dikatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). “Syarat menyatakan KLB adalah total kasus meningkat dua kali lipat atau lebih dan banyak warga meninggal dunia karena penyakit ini. Tapi meskipun belum dinyatakan KLB, proses penanganannya tetap sama dengan penanganan KLB. Yakni cepat dan merata,” ujarnya.
Darmadi menjelaskan, instansinya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi penyebaran penyakit DBD. Salah satunya dengan melakukan fogging di tempat atau rumah warga yang positif terkena DBD. “Biasanya fogging itu dilakukan dengan radius seratus meter dari rumah penderita, untuk membasmi jentik-jentik nyamuk aedes aegypti,” ujarnya, seraya menerangkan, banyaknya warga yang terjangkit DBD karena kurangnya kesadaran menjaga kebersihan dan membiarkan adanya genangan air di sekitar tempat tinggal.
Dihubungi melalui telepon seluler, Kepala Dinkes Kabupaten Pandeglang Indah Dinarsiani menjelaskan, gejala awal warga yang terkena virus DBD adalah mengalami panas yang cukup tinggi dan tidak kunjung turun. “Kalau sudah mengalami gejala itu, sebaiknya harus segera dibawa berobat dan dilakukan pemeriksaan. Itu penting, soalnya gejala awal penyakit ini hampir sama dengan flu, batuk, dan lainnya, yaitu panas tinggi,” katanya.
Indah mengimbau, agar warga tidak membiarkan adanya genangan air di lingkungannya. Soalnya, jentik nyamuk bisa berkembang biak di tempat itu. “Selain di bak mandi, di dispenser terdapat banyak jentik nyamuk, karena dari sisa air yang netes di sana juga bisa menjadikan jentik nyamuk. Makanya kita harus waspada,” sarannya. (Adib F/Radar Banten)










