JAKARTA – Komunikasi menjadi elemen penting bagi pelbagai lembaga guna mengirimkan segala hal menjadi kebijakan atau informasi penting kepada masyarakat umum, terlebih masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan lembaga tersebut.
Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, sistem pembayaran serta menjaga stabilitas sistem keuangan menyadari hal tersebut.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, BI memandang komunikasi merupakan hal penting. Komunikasi yang lancar, efektif, dan efesien akan membuat transmisi kebijakan BI dapat diterima industri, pelaku usaha, dan masyarakat secara cepat dan tepat sasaran, termasuk dalam mengendalikan ekpektasi inflasi.
“Komunikasi yang lancar, efektif, dan efesien membutuhkan peran serta media massa sebagai institusi yang memiliki tugas untuk menyebarkan berita dan informasi yang obyektif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Agusman dalam sambutannya saat membuka acara Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (20/11).
Karena itu, menurut Agusman, media memiliki peranan penting bagi aktivitas BI dalam menjalankan fungsinya sebagai otoritas yang telah dijelaskan sebelumnya.
Terkait komunikasi, Asisten Gubernur BI Dyah Nastiti memaparkan data menarik hasil penilitian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016. Masyarakat Indonesia yang menjadi target komunikasi BI mayoritas adalah masyarakat digital native.
Masyarakat native sendiri, dijelaskan Dyah, adalah masyarakat yang lahir dan besar di era digital. Dimana, masyarakat tersebut memiliki kecenderungan kepada aspek digital yang memengaruhi cara berkomunikasi.
Digital native cenderung mudah dan mau menerima informasi melalui tulisan-tulisan yang tidak panjang dan melalui gambar-gambar. Selain itu, banyak menghabiskan waktunya di gadget-nya masing-masing, dimana dalam satu hari bisa menghabiskan waktu sebanyak lebih dari tiga jam di internet melalui gadget-nya.
“Kita melihat dari data-data, bahwa masyarakat Indonesia itu semakin lama usianya semakin muda. Rata-rata usia penduduk Indonesia 28 tahun,” kata Dyah.
Rata-rata tersebut, dengan kecenderungan cara komunikasi digital native yang berbeda masyarakat di luar kategori tersebut, membuat BI harus berpikir keras agar komunikasi bisa mencapai targetnya.
“Paling tidak teman-teman media bisa membantu itu, karena bisa menjadi jembatan bagi kami dan masyarakat,” papar Dyah.
“Kita tidak bisa hidup tanpa media, apapun bentuk medianya. You are so important,” tambah Dyah.
Bagi Dyah, digital native bukan hanya menjadi tantangan bagi BI namun juga bagi lembaga lain dalam sektor apapun serta media itu sendiri.
“Dengan melihat tantangan ke depan, kita berpikir keras, sekarang kita mulai menggunakan info grafis, cara lain pun terus kita pikirkan agar komunikasi kita mencapai targetnya,” katanya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)








