SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Menjelang Natal Tahun 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026, aktivitas ekonomi masyarakat Banten mulai terasa meningkat.
Belanja kebutuhan pokok, lonjakan perjalanan wisata, hingga kenaikan pemesanan penginapan dan transportasi menjadi faktor musiman yang berpotensi mendorong kenaikan harga.
Karena itu, pengendalian inflasi dan stabilitas harga menjadi fokus agar masyarakat dapat menyambut libur akhir tahun dengan nyaman.
Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik, inflasi Banten berada pada kisaran sekitar 2,3 sampai 2,7 persen secara tahunan, masih sesuai sasaran nasional Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 persen.
Meski terjaga, sejumlah komoditas pangan seperti beras, cabai merah, daging ayam ras serta tarif transportasi dan akomodasi wisata tetap memberikan kontribusi pada tekanan harga.
Kondisi ini perlu diantisipasi dengan memastikan pasokan mencukupi, distribusi lancar, dan pola konsumsi tetap terkendali.
Dalam perspektif ekonomi daerah, kinerja Banten menjelang akhir tahun juga menunjukkan fondasi yang kuat.
Berdasarkan data resmi Bank Indonesia menunjukkan bahwa perekonomian Banten pada Triwulan III 2025 tumbuh 5,29 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional 5,04 persen.
Pertumbuhan ini didorong konsumsi rumah tangga, aktivitas perdagangan, serta meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk pergerakan wisatawan.
Sektor pariwisata sendiri menjadi salah satu penopang pulihnya daya beli dan aktivitas ekonomi. Kontribusi sektor akomodasi, makanan, dan minuman terhadap PDRB Banten meningkat menjadi 2,44 persen, dengan serapan tenaga kerja mencapai 515 ribu orang.
Peningkatan tingkat hunian kamar hotel, kunjungan wisatawan nusantara, serta pertumbuhan aktivitas MICE, terutama di kawasan Tangerang Raya, menjadi faktor penting yang mendorong ekonomi daerah.
Digitalisasi sistem pembayaran juga menunjukkan peran signifikan dalam mendukung aktivitas wisata dan konsumsi.
Data Bank Indonesia memperlihatkan bahwa transaksi QRIS antarnegara di Banten tumbuh pesat, khususnya dari wisatawan Malaysia yang mencatat lebih dari Rp12,2 miliar transaksi dengan volume 85 ribu transaksi, meningkat lebih dari 150 persen secara tahunan.
Kesiapan digital ini memperkuat kelancaran transaksi selama periode liburan, sekaligus meningkatkan efisiensi ekonomi daerah.
Dengan meningkatnya aktivitas wisata dan konsumsi, Bank Indonesia Provinsi Banten menekankan bahwa pemerintah daerah perlu memperkuat langkah pengendalian harga melalui penjagaan pasokan pangan, pasar murah yang tepat sasaran, serta pengawasan tarif transportasi dan akomodasi agar tidak melonjak berlebihan.
Kerja sama antar daerah untuk menjamin suplai komoditas sensitif, terutama beras dan cabai juga menjadi langkah penting untuk meredam tekanan inflasi musiman.
Komunikasi publik yang efektif juga diperlukan agar masyarakat bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat mempercepat kenaikan harga.
Edukasi belanja bijak, pemanfaatan transaksi digital, serta transparansi informasi harga menjadi bagian dari stabilisasi yang akan menjaga daya beli masyarakat.
Dengan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, inflasi Banten pada periode Nataru diproyeksikan tetap terkendali.
Stabilisasi harga tidak hanya memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau, tetapi juga menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sedang ditopang oleh perdagangan, konsumsi, dan sektor pariwisata yang terus menguat.
Banten menyambut akhir tahun dengan optimisme, fondasi ekonomi yang kuat, serta kesiapan pengendalian inflasi yang terukur. *
Editor: Agus Priwandono











