CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID-Warga di Lingkungan Karang Tengah, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, mengeluhkan debu batu bara.
Warga mengeluh karena debu batu bara mencemari rumah masyarakat.
Debu batu bara itu diduga warga berasal dari stockpile atau tempat penampungan batu bara yang berada tak jauh dari lingkungan masyarakat.
Debu berwarna hitam itu mengotori rumah warga hingga sejumlah peralatan rumah tangga seperti peralatan masak dan makan.
Warga khawatir debu tersebut akan berakibat fatal terhadap kesehatan masyarakat. Saat ini sejumlah keluhan kesehatan mulai dirasakan masyarakat.
Keluhan kesehatan yang dirasakan masyarakat seperti sesak, gatal, dan batuk-batuk.
Salah satu warga, Fauzi menjelaskan, selain rumah debu batu bara itu juga mencemari fasilitas umum seperti masjid dan juga madrasah.
“Total keseluruhan ada sekira 600 KK, yang terdampak itu sekira 300 atau 200 KK, masjid, madrasah juga terdampak, jadi ini bukan hanya soal masyarakat pribadi,” ujar Fauzi, Jumat 6 Oktober 2023.
Dikatakan Fauzi, persoalan pencemaran lingkungan itu terjadi sekira dua bulan terakhir.
Warga sempat mendatangi pemilih lahan tempat stockpile batu bara itu berdiri.
Pemilik lahan mengaku jika batu bara itu bukan miliknya tapi pihak lain yang mengontrak lahan.
“Kami datang ke yang punya lahan, kami bilang gak pernah mengeluh ke perusahaan pa haji, tapi ketika ada batu bara semua warga mengeluh, jadi wajar kalau kami memohon jangan ada batu bara,” papar Fauzi.
Setelah itu, pemilik lahan mengaku pemilik batu bara ingin memberikan konfensasi ke masyarakat selama batu bara ada.
Masyarakat awalnya menginginkan batu bara itu hilang, tidak lagi di lokasi tersebut.
Namun, kemudian memberikan kelonggaran mengizinkan stokpile itu beroperasi hingga batu bara itu habis.
Tapi masyarakat kecewa karena pihak pemilih batu bara terus menambah batu bara tersebut.
“Awalnya bilangnya sampai habis batu bara yang sudah ada, eh terus ditambah lagi-ditambah lagi. malah memperpanjang kontrak, dan yang punya batu bara gak mau selesai kalau sebelum selesai kontrak,” papar Fauzi.
Masyarakat bersikukuh agar stockpile itu ditutup sehingga masyarakat bisa kembali hidup dengan tenang tanpa ada ancaman pencemaran.
“Kami hawatir dampaknya ke anak-anak kami, jadi warga tegas inginnya ditutup,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Sabri Mahyudin belum berhasil dikonfirmasi.
Beberapa kali ditelepon namun tidak merespon meski telepon dalam keadaan aktif. (*)
Reporter Bayu Mulayana
Editor : Merwanda











