CILEGON – Peminat jasa angkutan umum alias angkot di Kota Cilegon semakin sepi. Hal itu berdampak langsung pada pendapatan ribuan masyarakat yang menggantungkan nasib sebagai sopir angkot. Tak tangung-tanggung, penurunan pendapatan bisa mencapai 50 hingga 70 persen.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon Hendra Pradipta menjelaskan, secara umum, jumlah angkot yang beroperasi di Kota Cilegon sebanyak 1.292 unit. Data itu mengacu pada izin trayek perkotaan.
Jumlah itu terdiri dari trayek Cilegon-Merak-Pulorida-PP sebanyak 660 unit, Cilegon-Anyer-PP 378 unit, Cilegon-PCI-PP 69 unit, dan Cilegon-Bojonegara-PP sebanyak 185 unit.
Pria yang baru menempati posisi itu mengaku telah melakukan pendataan secara langsung di lapangan, hasilnya, ia mendapatkan banyak keluhan dari para sopir angkot terkait menurunnya jumlah penumpang. “Tadi pagi juga saya bicara dengan pengurus angkot ada keluhan, sekarang sepi,” ujar Hendra, Kamis (24/7).
Menurutnya, hal itu terjadi karena angkot dari seluruh trayek masuk ke jalur protokol, sehingga menimbulkan persaingan antara sopir angkot. Kondisi itu diperparah dengan bermunculannya layanan jasa transportasi berbasi daring atau online.
Menyikapi hal itu, Hendra mengaku sedang membahas solusi yang tidak merugikan pihak manapun. Salah satunya adalah dengan mengatur aktivitas setiap trayek angkutan agar tidak semua trayek masuk ke jalur protokol.
“Untuk angkot dari Serang, Bojonegara, semuanya masuk ke Terminal Seruni, terus kita menginginkan ada sub terminal di Bonakarta sebagai titik akhir angkot dari Anyer dan Merak. Untuk angkot Cilegon-PCI nanti yang akan mengantarkan penumpang dari terminal-terminal itu ke tujuan-tujuan penumpang,” ujarnya.
Dengan cara itu, selain trayek menjadi teratur, ia berharap terjadi pemerataan pendapatan diantara para sopir angkot. “Usulan sudah kita sampaikan ke pimpinan, tinggal menunggu persetujuan,” ujarnya.
Salah satu sopir angkot, Ipin, mengaku alami penurunan secara drastis, ia yang bekerja di trayek Cilegon-Anyer biasa dalam satu kali perjalanan bisa mengantongi uang Rp100 ribu, sedangkan saat ini, untuk mendapatkan uang sebesar itu ia harus bekerja dari pukul 07.00 hingga pukul 12.00.
“Sekarang paling Rp120 ribu dari pagi sampai dzuhur, itu udah termasuk buat bensin, setoran,” ujarnya. (Bayu Mulyana)









