JAKARTA – Mengenai pengunduran diri Roy Maningkas sebagai Komisaris Independen PT Krakatau Steel, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku belum menerima surat resmi maupun alasan pengunduran diri Roy.
“Belum, belum sama sekali,” kata Rini di Jakarta, Rabu (24/7).
Sebelumnya, pengunduran Roy Maningkas telah disampaikan ke Kementerian BUMN. Surat pengunduran diri akan diproses dalam kurun waktu sebulan. “Ini kan komisaris kalau dia mau nulis tapi saya belum terima, jadi saya belum tahu. Jadi harap bicara dengan Preskomnya atau pun dengan deputi. Saya belum dapat kabar,” ujar Rini.
Roy Maningkas memutuskan mengundurkan diri dari jabatan yang telah diembannya selama empat tahun terakhir. Alasannya, emiten dengan kode KRAS tersebut memaksakan proyek blast furnace yang berpotensi merugikan uang negara Rp1,3 triliun per tahun.
Sebagaimana diketahui, persiapan proyek blast furnace telah dimulai sejak 2011 lalu. Krakatau Steel (KS) telah merogoh kocek sebesar USD714 juta atau setara Rp10 triliun untuk proyek yang menghasilkan hot metal tersebut. Angka itu membengkak dari rencana sebelumnya hanya Rp7 triliun. “Saya melihat ada sesuatu yang dipaksakan. proyek ini kan molornya sudah 72 bulan. Tiba-tiba sebulan yang lalu direksi menyampaikan ini siap beroperasi. Padahal menurut saya dan teman-teman komisaris, ini harus dipertimbangkan baik-baik,” kata Roy saat jumpa awak media di Kantor BUMN, Jakarta, Selasa (23/7).
Dijelaskan Roy, proyek dari blast furnance sejatinya telah molor selama 72 bulan dari rencana awal pengoperasiannya. Kemudian belakangan ini, proyek tersebut dipaksakan untuk dijalankan dengan alasan Krakatau Steel telah membeli bahan baku dan mesin yang tidak terpakai senilai Rp10 triliun. (fin)










