CILEGON – Sudah tiga hari sejak Sabtu (3/8) hingga Senin (5/8) kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kecamatan Cilegon, belum juga teratasi. Asap tebal masih membumbung di sekitar Bagendung.
Bahkan kemarin siang, si jago merah kembali berkobar sebelum akhirnya dipadamkan petugas Damkar. Rencananya, Pemkot Cilegon meminta bantuan industri yang memiliki perlengkapan pemadam untuk bersama-sama memadamkan api pada hari ini (6/8).
Kemarin, Walikota Edi Ariadi datang ke TPSA. Edi menilai kebakaran tersebut tidak bisa hanya ditangani oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cilegon. Menurutnya, jumlah armada yang dimiliki Damkar tidak cukup. “Enggak bisa cuma pakai dua mobil Damkar saja, kalau begini lama dan berbahaya,” ujar Edi, Senin (5/8).
Menurutnya proses pemadaman api harus dilakukan di berbagai sisi secara bersamaan dalam waktu yang sama. Namun hal itu membutuhkan armada pemadam kebakaran yang lebih banyak. Oleh karena itu, Edi akan meminta bantuan kepada pemadam kebakaran yang dimiliki industri. “Saya pengen dari seluruh sisi, sekaligus, digempur,” kata Edi.
Dari tragedi itu, Edi mengaku sangat mengkhawatirkan dampak buruk dari asap yang ditimbulkan. Hal itu bisa berdampak buruk terhadap kesehatan warga. Kendati sudah terjadi selama tiga hari, Edi belum menetapkan kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Lurah Bagendung Safiudin berharap kebakaran TPSA segera tertangani. Dia pun berharap semua pihak bekerja sama bahu-membahu memadamkan api. “Harus segera diatasi sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya,” harapnya.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Teddy Soeganda menjelaskan, akibat kebakaran itu, ia membatasi kendaraan sampah yang berasal dari pihak swasta seperti industri. “Hanya satu zona saja yang dioperasikan. Kalau sampah yang ditangani DLH masuk terus. Sampah yang dari swasata yang kita tahan dulu,” ujarnya.
Biasanya, dalam satu hari sampah yang masuk ke TPSA Bagendung sebanyak 600 meter kubik. Yang berasal dari swasta sebanyak 150 meter kubik, sisanya yang ditangani oleh DLH yang berasal dari pasar-pasar dan rumah penduduk. (bam/ibm/ags)









