CILEGON – Sampah rumah tangga di Lingkungan Serdang, Kelurahan Kota Bumi, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon diubah menjadi pupuk cair dan juga bahan bakar berupa solar, bensin, dan minyak tanah.
Untuk bisa menjadi produk bernilai ekonomi dan bermanfaat tersebut, sampah-sampah rumah tangga yang berasal dari sekira 1.000 kepala keluarga di lingkungan tersebut dibawa ke Industri Pengolahan Sampah Manajemen Sampah Zero (IPS Masaro) yang berada di lingkungan tersebut.
Sebelum dibawa ke IPS Masaro, di masing-masing rumah warga telah memilah sampah ke dalam empat jenis sampah, yaitu, sampah membusuk seperti sisa sayur mayur, buah-buahan dan lainnya. Sampah bakar seperti kayu, tisu, diapers, pembalut, dan lainnya. Sampah plastik film atau sampah plastik yang memiliki value rendah, dan terakhir adalah sampah daur ulang atau sampah plastik yang memiliki value tinggi.
Di IPS Masaro, sampah busuk dan sampah bakar diolah untuk menjadi pupuk cair dan kompos, sampah plastik dengan value rendah diolah menjadi bahan bakar seperti solar, minyak, dan bensin, sedangkan sampah plastik dengan value tinggi didaur ulang secara langsung.
“1 kilogram sampah busuk bisa menjadi 10 liter pupuk cair,” ujar Zaenal Abidin pencetus konsep pengelolaan sampah Masaro, Senin (9/9).
Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, di Kota Cilegon, IPS Masaro berdiri sejak awal tahun ini. Pembangunan IPS Masaro merupakan program pemberdayaan masyarakat PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) yang bekerjasama dengan Pemkot Cilegon, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sehati Maju Bersama, ITB, Asosiasi Industri Plastik Indonesia atau Inaplas, Digital Waste Management dan PT Jaya Nurimba.
Produk pupuk cair hasil olahan di IPS Masaro tersebut dinamai Pupuk Organik Cair Istimewa (POCI), dalam sebulan, dari sampah di lingkungan tersebut IPS Masaro mampu memproduksi 60 ribu liter POCI. “Pupuk dijual ke masyarakat sekitar dan juga dari daerah lain yang sudah tahu produk ini,” paparnya.
Kompleks IPS Masaro di Kelurahan Kota Bumi tersebut terdiri dari instalasi pupuk organik dengan kapasitas 60.000 liter per bulan, fasilitas pembotolan dan pengepakan, tiga unit insinerator dengan kapasitas 10 ton per hari yang dilengkapi dengan scrubber.
Kemudian, tiga unit pirolisator dengan kapasitas masing masing 30 kg per batch. Fasilitas ini yang digunakan untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Dari tiga unit pirolisator, terdapat dua unit yang menggunakan energi panas dari insinerator sampah dan satu unit merupakan inovasi pirolisator berbahan bakar gas yang efektif dan hemat
bahan bakar dari siswa Jakarta Intercultural School (JIS), John Lieman Junghans.
Dalam kesempatan yang sama, John menjelaskan, pirolisator hasil inovasinya itu memiliki kapasitas 20 kilogram sampah plastik dalam sekali produksi. Dari kapasitas itu bisa dihasilkan dua kilogram solar, 1,5 kilogram bensin, dan satu kilogram minyak tanah.
“Setelah diuji coba, dari 100 gram bensin bisa menempuh jarak 1 kilometer saat digunakan oleh sepeda motor,” ujar remaja yang duduk di kelas dua SMA JIS tersebut.
Dengan metode ini, menurut John bisa menyikapi persoalan sampah plastik yang sedang ramai menjadi pembahasan publik. Metode itu pun membuktikan, dengan penanganan yang tepat, sampah plastik bisa diolah menjadi sumber energi hanya dalam waktu enam jam. (Bayu Mulyana)










