LEBAK – Jalan Kaduagung-Cileles, tepatnya di Kampung Salapajang, Desa Cigoong Selatan, Kecamatan Cikulur, kini mengkhawatirkan. Soalnya, selain licin, jalan tersebut berlumpur. Sehingga, apabila hal ini dibiarkan bisa membahayakan para pengguna jalan.
Apalagi, lumpur yang menutupi badan jalan beton itu berasal dari galian tanah yang ada di pinggir jalan yang terbawa air hujan.
Bahaudin, warga Salapajang, Kecamatan Cikulur menyatakan, setiap kali turun hujan di wilayah Cikulur dan sekitarnya, jalan Kaduagung-Cileles raya menjadi kotor dan licin. Penyebabnya, akibat galian tanah yang ada di pinggir jalan.
Air hujan dari lokasi galian tanah mengalir ke jalan raya dan membawa lumpur. “Ketebalan lumpur di jalan Kaduagung-Cileles mencapai tiga sentimeter lebih. Sehingga pengendara roda dua dan masyarakat setempat merasa terganggu oleh kondisi tersebut,” katanya, Senin (25/11).
Dikatakan Bahaudin, masyarakat di Cikulur kerap swadaya membersihkan lumpur yang mengotori badan jalan dengan menggunakan peralatan seadanya. Namun, kata Bahaudin, upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal, karena lumpur yang menutupi badan jalan beton cukup tebal. “Kami prihatin dengan kondisi tersebut. Walaupun sekarang galian tanah tersebut sudah enggak beroperasi, tapi dampak lingkungannya sangat dirasakan masyarakat,” katanya.
Bahaudin menyebutkan, ada beberapa pengendara sepeda motor yang terjatuh di lokasi jalan yang berlumpur. Mereka sempat mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Untuk itu, dia meminta kepada Pemerintah Daerah segera mengevaluasi galian tanah di wilayah Cikulur dan sekitarnya. Karena khawatir dampak lingkungan semakin meluas.
“Jelas masyarakat yang dirugikan. Karena banyak yang terjatuh atau mengalami kecelakaan tunggal,” katanya.
Pengendara yang melintas di Jalan Kaduagung-Cileles Eli Syahroni membenarkan, jalan raya di Kecamatan Cikulur tertutup lumpur. Kata dia, kondisi tersebut membuat badan jalan menjadi kotor dan licin.
Eli meminta kepada dinas terkait untuk segera menegur pengusaha galian tanah di daerah itu. “Sekarang galian tanah di sana sedang tutup, karena pengembang jalan tol sendiri masih belum beraktivitas lagi. Infonya pada Desember nanti, galian tanah itu akan beroperasi lagi. Saya minta dampak lingkungannya harus diperhatikan,” katanya.
Sekretaris Komisi IV DPRD Lebak Musa Weliansyah menyatakan, Pemerintah Daerah diharapkan dapat mendengar aspirasi dari masyarakat. Dia ingin, persoalan galian tanah dievaluasi agar tidak merugikan masyarakat di daerah.
“Saya ketika melintas juga agak ngeri, karena lumpurnya tebal dan licin. Sehingga laju kendaraan harus di perlambat agar tidak terperosok,” ujarnya.
Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini akan mempertanyakan masalah izin galian tanah kepada Dinas Perizinan dan Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Kalau enggak ada izinnya, maka harus ditindak. “Kita minta semua pengusaha yang berinvestasi di Lebak dapat menjaga lingkungan, sehingga keberadaan mereka dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya. (tur/zis)









