“Pertanyaannya adalah dari mana dana besar tersebut berhasil dikumpulkan. Apakah bantuan finansial besar dari Kerajaan induknya, Demak atau hasil rampasan perang menaklukan wilayah pesisir Kerajaan Pakuan Pajajaran tahun 1526-1527. Jawaban atas pertanyaan ini kita temukan dalam fakta bahwa Sultan Maulana Hasanuddin menjalin hubungan perdagangan intensif dengan beragam suku dan bangsa,” ungkap Wawan.
Wawan melanjutkan, tiga di antara bangsa-bangsa asing yang menjalin hubungan perdagangan intensif dan berkelanjutan dengan Banten setidaknya di tiga perempat terakhir abad ke-16 adalah India, Cina dan Portugis. Orang Tamil dari pantai Coromandel, dikenal dengan ‘orang Keling’, memainkan peran penting dalam perdagangan di Banten. Pada tahun 1540-an, Syahbandar Keling bertanggung jawab mengurusi perekonomian Banten. Begitu pula pada tahun 1560-1580-, seorang pedagang Tamil yang berasal dari Mailapore bernama Kiayi Wijamanggala menduduki posisi sebagai syahbandar selama dua puluh tahun dan bahkan memainkan peran besar dalam berbagai peristiwa politik di Banten sampai akhir abad ke-16.
Perdagangan lada Banten dengan Cina masa Hasanuddin berlangsung sangat intensif. 20 jung Cina dilaporkan datang di pelabuhan Sunda dan Banten dan memuat sekitar 30.000 kuintal lada. Lada Banten yang begitu banyak dikirim dari perkebunan lada milik Raja Banten di Lampung. Ekspansi dan klaim Banten atas Lampung mungkin berkaitan dengan keharusan untuk menyediakan sejumlah besar lada untuk ekspor, baik ke Portugis maupun ke Cina. Karena alasan ekspor lada pula, Banten berupaya untuk menaklukan Palembang. Sebagai raja yang memiliki pemahaman geo politik dan strategi perdagangan internasional. Sultan Maulana Hasanuddin juga menjalin hubungan dagang intensif dengan Portugis. Meskipun volume perdagangan lebih kecil dari Cina, intensitas hubungan dagang antara kedua entitas politik ini tercatat dengan baik dalam lembar-lembar sejarawan Portugis abad ke-16.
“Dari gambaran di atas, figure founding father Kesultanan Banten, yang kami adopsi sebagai nama perguruan tinggi kami, jelas figure yang memiliki kompetensi luar biasa dalam bidang ilmu agama, tetapi juga seorang figur dan tokoh pemimpin kerajaan yang menguasai ilmu perdagangan, pemahaman geo politik strategis kawasan, dengan kemampuan luar biasa dalam bidang diplomasi dan managemen pemerintahan,” unkap Wawan.











