Di beberapa kawasan di Asia Tenggara, cabai sangat populer digunakan sebagai penguat rasa makanan maupun pelengkap bumbu hidangan. Sementara di Jerman, cabai juga berangsur memikat indera pengecap para pecinta kuliner.
Pada Jumat (5/11), Goethe-Institut Jakarta beserta Goethe-Institut Bandung, Bangkok, dan Yangon menyelenggarakan gelar wicara virtual bertajuk “Budaya Cabai di Asia Tenggara dan Jerman”.
Gelar wicara ini menghadirkan pakar kuliner William Wongso; penulis dan koki Petty Elliot; seniman visual Vincent Rumahloine; pakar cabai asal Jerman Alexander Hicks; juri Masterchef Myanmar Daw Phyu Phyu Tin; serta dimoderatori pencerita kuliner Ade Putri Paramadita.
Gelar wicara ini merupakan bagian dari proyek regional jangka panjang bertajuk “Goethe is(s)t scharf” yang fokus kepada isu keberlanjutan. Tahun ini, Goethe-Institut fokus kepada cabai karena komoditas ini dinilai memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Petty menceritakan, perkembangan budaya cabai di Indonesia sangat kuat dari berbagai sudut sejak cabai dibawa dan diperkenalkan oleh penjelajah dari Portugis sejak tahun 1511. Perkembangan terjadi mulai dari sudut produksi, variasi, dan kreativitas penggunaan cabai dalam memasak. Cabai tidak hanya menjadi bahan makanan utama, tetapi juga digunakan dalam minuman dan hidangan pencuci mulut.











