“Cabai memberikan energi untuk masyarakat Indonesia. Cabai juga memberikan koneksi dan hubungan yang kuat dalam makanan daerah di Indonesia melalui sambal. Setiap daerah memiliki sambal. Bahan yang paling penting untuk membuat sambal adalah cabai,” ujar Petty dalam siaran pers Goethe Institut
William Wongso menambahkan, Indonesia lekat dengan budaya sambal, sebab kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki “state of mind sambal”. Artinya, masyarakat lebih dulu memikirkan keberadaan sambal itu sendiri bahkan sebelum mencicipi makanan utama. “Masyarakat Indonesia itu kalau makan belum lengkap tanpa sambal,” ujarnya.
Selain dari sisi kuliner, Vincent Rumahloine mengungkapkan, musik dapat bermanfaat dalam perawatan dan perkembangan tanaman cabai. Untuk itu, ia dan aktivis lingkungan Mang Dian menggagas Sedekah Benih, yakni sebuah proyek kolaborasi partisipatif yang menggabungkan aktivitas artistik dan eksplorasi musik, kearifan lokal, serta aktivisme ke dalam sebuah kegiatan urban farming di Kota Bandung. Dalam proses pengembangan proyek Sedekah Benih, terdapat eksperimen di pertemuan-pertemuan dengan musisi.
Budaya Cabai di Luar Indonesia
menurut Daw Phyu Phyu Tin, penduduk Myanmar menggunakan cabai sebagai bahan dan bumbu penting untuk memasak serta digunakan untuk obat tradisional. Lebih dari 80 persen penduduk Myanmar menggunakan cabai dalam menyiapkan makanan sehari-hari. Cabai digunakan dalam berbagai bentuk, mulai dari cabai segar, kering secara keseluruhan sebagai bagian dari bahan masakan, saus, jus, serta bubuk sebagai bumbu penyedap rasa hingga sebagai wangi aromatik.
“Masyarakat Myanmar mengonsumsi sebagian besar produksi cabai di Myanmar dan mengimpor berbagai jenis cabai dari luar negeri untuk diolah menjadi masakan internasional. Cabai memiliki salah satu peran tertinggi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari penduduk di Myanmar,” tambahnya.











