Dari nada pembicaraan, pihak keluarga Tejo selalu terkesan meninggi, mulai dari membicarakan aset berupa tanah dan rumah, mobil, hingga simpanan tabungan masa depan. Padahal hanya Tejo yang tampak mapan, selebihnya hanya pekerja biasa.
Keluarga Noni yang terpancing emosi, tak mau kalah. Mulai dari menyampaikan punya kebun dan sawah, serta memiliki hubungan kekerabatan dengan orang-orang penting dan berpengaruh.
Kejadian itu dimulai saat awal pertama kali pertemuan dua keluarga. Siapa sangka, ternyata masalah terus berlanjut ke rencana pernikahan, hingga keberlangsungan rumah tangga. “Keluarga dia pengen nikahnya di gedung mewah kayak di Jakarta,” katanya.
Namun saat itu mereka jadi menikahnya di Serang, di salah satu hotel. Belum cukup sampai di situ, keluarga istri juga terus menuntut agar Tejo bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Setiap minggu ditelepon orangtua, nanyain hidup kami berkecukupan apa enggak,” katanya.











