Walaupun sebelumnya pembongkaran jembatan eksisting masuk dalam kontrak dengan PT PP, tapi lantaran batal dilakukan maka dialihkan untuk kegiatan lain. “Masih kita hitung,” ujarnya. Kata dia, nilai kontrak bisa dimanfaatkan untuk menyempurnakan item-item yang tidak ada di kontrak sebelumnya, seperti aksesoris untuk merapikan dan mendesain jembatan lama supaya sama dengan jembatan baru.
Batalnya jembatan lama dibongkar karena berdasarkan hasil koordinasi dengan PT Marga Mandalasakti dan Badan Pengelola Jalan Tol, pekerjaan pembongkaran itu akan sulit dilakukan karena harus menutup jalan tol. “Pertimbangan kita ketika pembongkaran tidak bisa dilaksanakan karena permasalahan koordinasi,” ungkap Arlan.
Apalagi, lanjutnya, ada kebijakan terkait libur Natal dan Tahun Baru yakni tidak boleh ada gangguan terhadap lalu lintas jalan tol. “Akhirnya kita membuat justifikasi, tidak dibongkar tapi jembatan ini selain bisa dimanfaatkan tapi tidak mengubah nilai estetikanya. Kita review lagi,” ujarnya.
Dengan begitu, jembatan lama tidak dibongkar tapi ada penanganan khusus untuk jembatan lama supaya secara estetika juga tidak menurunkan kualitas desain jembatan baru. Meskipun begitu, pihaknya akan membongkar aksesnya saja supaya masyarakat tidak bisa mengakses jembatan lama kecuali yang mengendarai roda dua. “Kita mau timbun juga akses jembatan lamanya dan akan diperbaiki untuk membuat akses jembatan baru sebelah kanan,” terang Arlan.
Meskipun belum selesai, kemarin Gubernur Banten Wahidin Halim membuka lalu lintas (open traffic) Jembatan Bogeg. Sebelum dibuka, jembatan ini sudah melalui uji muat 12 truk tronton muatan penuh sekitar 400 ton atau 70 persen dari kapasitas beban muatan jembatan.
“Mulai hari ini (kemarin-red), jembatan Bogeg bisa dimanfaatkan untuk mendukung sarana transportasi masyarakat,” tuturnya. Diharapkan juga mampu memperlancar mobilitas serta arus barang sekaligus mendukung pemulihan ekonomi di wilayah Provinsi Banten.











