Pengamat puertahanan Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie, menilai bahwa invasi Rusia yang dilakukan Presiden Vladimir Putin ke Ukraina ada kesamaan dengan yang dilakukan Soekarno melalui operasi militer Ganyang Malaysia di era 60-an.
Melalui siaran Radio Elshinta pada Jumat (25/2/2022), menurut Connie, antara Vladimir Putin dan Soekarno sama-sama khawatir terhadap negara tetangga mereka yang hendak bergabung dengan pertahanan negara-negara barat.
Rusia sejak 2008 telah memperingatkan Ukraina untuk tidak bergabung dengan Pakta Pertahanan Pasifik Utara atau NATO pimpinan Amerika Serikat. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Volodymyr Zelensky, Ukraina semakin digiring untuk bergabung dengan NATO.
Sementara, tahun 1961, seperti dilansir Wikipedia Indonesia, Malaysia ingin menggabungkan wilayah Brunei, Sabah, dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia yang didukung Inggris dan Amerika Serikat.
Keinginan tersebut ditentang keras oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai “boneka Inggris” dan merupakan kolonialisme/imperialisme dalam bentuk baru.
Menurut Soekarno, konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.
Putin dan Soekarno sama-sama mengambil jalan operasi militer setelah seruan mereka diabaikan oleh negara tetangganya.
Menurut Connie, apa yang dilakukan Putin menginvasi Ukraina sudah tepat sebagai bentuk peringatan untuk tidak menyepelekan Rusia sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia.
“Sederhananya Vladimir Putin ingin memberi pelajaran kepada Amerika Serikat dan NATO. Bahwa dunia ini tidak boleh di run (dijalankan-red) oleh satu negara saja atau satu kelompok saja,” ujar Connie dalam wawancaranya di Youtube Helmy Yahya, Kamis (3/3/2022).
Menrut Connie, jika Ukraina menjadi anggota NATO, maka moncong-moncong senjata NATO sangat dekat mengarah ke wilayah Rusia, inilah yang membuat Putin geram.
“Amerika Serikat juga sudah diperingatkan oleh Putin. Kata Putin, coba bayangkan jika Rusia masuk ke Meksiko (yang berbatasan langsung dengan Amerika-red) dan menaruh rudalnya di Kanada bagaimana perasaan Amerika? Inilah yang juga dirasakan Rusia ketika Ukraina ingin bergabung dengan NATO,” tambahnya lagi.
Menurut Connie, Soekarno pun sama, bahkan Soekarno secara lantang menyampaikan hal itu di sidang umum PBB, dimana Soekarno menentang adanya satu kekuatan tunggal di dunia.
“Saya benci imperialisme! Saya menentang kolonialisme! Kami bertekad, bangsa kami dan dunia keseluruhan tidak boleh menjadi permainan oleh satu bagian kecil dunia saja!” ujar Soekarno di Sidang Umum PBB, 30 September 1960, dikutip Radar Banten dari akun Youtube Jayanto. (Syaiful)











