lucu sekali aku sampai pada pertanyaan ini, padahal tidak lebih dari 24 jam yang lalu, aku menghadiri konferensi kosmolog se-dunia di Paris, Prancis, mengenai kemungkinan untuk menangkap radiasi purba bekas peristiwa Big Bang, agar mengetahui bagaimana kondisi alam semesta ketika berusia sepersekian detik pasca ledakan secara empiris.
Di sana aku bertemu dengan banyak ilmuwan-ilmuwan dan berdialog tentang peristiwa kejadian penciptaan alam semesta, dan salah satu bahan pembicaraan tidak formalnya adalah mengarah pada pertanyaan “Adakah Tuhan?” tentu saja jawaban atas pertanyaan ini sudah jelas, setidaknya bagiku.
Materi tidaklah mungkin bisa memberikan sifat kepada materi, karena Sang Pemberi Sifat harusnya berada di luar materi.
Dalam hal ini sesuatu yang kita sebut dengan peristiwa imateri, peristiwa yang terjadi sebelum ruang dan waktu tercipta, peristiwa ketika t ≤ 0, kejadian di mana semua ilmu berbasis materi tidak bisa menjelaskan.
Satu-satunya jawaban terhadap hal ini harus kita cari melalui perenungan rasional, tidak bisa hanya tergantung pada bukti-bukti empiris semata.
Kira-kira dua menit sudah berlalu. Dalam dua menit ini, tidak terasa aku berdialektika tentang banyak hal. Syaraf dalam otak kita dihubungkan oleh impuls-impuls listrik dipaksa bekerja melampaui kecepatan setara dengan cahaya.
Itulah kenapa, kita bisa merasa bermimpi dua menit, lalu tersadar kita sudah tidur selama delapan jam. Atau, salah satu alasan orang yang mendekati fase kematian bisa memutar memorinya selama dia hidup, ingatan mulai bayi hingga ingatan menjelang ajalnya tiba.
Titik hijau kecil tadi sudah mulai nampak membesar, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Pandangan mataku memudar, entah karena kecepatan angin yang menumbuk mata benar-benar sangat deras –membuat perih mata, atau aku sudah mulai kehabisan oksigen.











