Dada juga terasa sangat sesak, menghirup sedikit angin lewat hidung pun sangat sulit, belum lagi aku harus menjaga pikiranku agar tidak panik, karena di ketinggian ini, harusnya penerjun sudah membuka parasutnya.
Aku harus tetap sadar untuk menjaga sikap tubuhku agar hambatan angin tetap maksimal. Aku harus bisa melewati peluang sekecil lubang jarum ini.
Tiba-tiba saja pikiranku terganggu dengan pertanyaan lain, Apakah pertolongan Tuhan benar-benar ada? Maksudku, memang aku yakin Tuhan eksis, namun dengan cara apa Tuhan menolongku dari situasi ini? jika memang bisa, maukah Tuhan menolongku?
Sudah berapa kali manusia jatuh dari pesawat terbang, lalu mendarat dengan nyawa masih melekat pada raga?
Secara hitung-hitungan matematis, persentasenya terbilang mendekati mustahil. Jika ada sesuatu yang membuatku selamat, maka hal tersebut adalah suatu kebetulan yang luar biasa, bahkan mendekati kejadian supranatural. Sudikah Dia?
“Biarkanlah aku terkejut sekali lagi dengan keajaibanMu, atau setidaknya biarkan aku terpesona untuk terakhir kalinya dan legawa kepada putusanMu,” aku merayu setengah putus asa dalam batin.
Aku tidak bisa bernafas dengan baik lagi, entah, rasanya seperti tercekik hebat. Hambatan angin juga telah menyakiti badanku, rasanya seperti dihujam pedang dari segala arah secara bersamaan.
Kepalaku serasa mau pecah menahan rasa sakit ini, tidak seperti rasa sakit yang pernah kualami sebelumnya. Ingin ku menjerit, tetapi semakin ku berusaha menjerit, semakin terasa pecah saja kepalaku ini. Telingaku sudah tidak bisa membedakan antara suara angin ribut dengan suara tembakan senapan.











