“Di bioflok ini produksinya lebih cepet, ikan lebih cepat panen yang biasanya di kolam lumpur itu panen sampai 5 bulan sekali. Kalau di bioflok ini cuma 3 bulan. Ikannya juga ga bau lumpur, jadi lebih disukai konsumen,” ungkapnya.
Kata Intan, dalam kolam berukuran 4-8 meter, dirinya bisa memanen ikan nila sebanyak 5 kwintal sekali panennya. Untuk harganya, ia menjual Rp30 ribu perkilogram.
“Harga segitu itu buat pembeli dari luar. Sementara untuk warga Lokal, warga Desa Kadu Agung kita kasih diskon khusus. Karena mau bagaimana pun juga saya ingin usaha ini bisa menjadi berkah bagi warga sekitar,” ujarnya.
Untuk pemasarannya, Intan mengaku, dirinya sudah mempunyai agen dan menyuplai ikan untuk restoran di Rangkasbitung hingga Tangerang. Kini, kolam budidaya ikan nila yang sudah dirinya tekuni ini sudah dapat mempekerjakan 5 orang tenaga lokal.
“Alhamdulillah untuk omzetnya lumayan, bisa sampai Rp30 juta sekali panen. Insyaallah kita akan terus kembangkan usaha ini,” kata Intan.(mg-02/tur)











