“Tapi sekarang pedagang pengecer hanya menjual Pertamax. Sementara harga Pertamax kan naik juga dari Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter,” katanya.
Pertalite harganya Rp10.000 per liter, lanjut dia, banyak orang termasuk dirinya memilih ikut mengantre di SPBU untuk beli Pertalite.
“Karena harga di SPBU lebih murah dari pada di eceran. Dulu pas kenaikan harga BBM belum terjadi beda tipis dengan harga eceran karena memang masih ada Pertalite jadi kalau SPBU ngantre ya beli eceran,” katanya.
Maharani meminta, kepada pemerintah agar jangan tutup mata atau hanya menonton kesulitan masyarakat. Sebab dengan mengantre lama di SPBU itu sama membuang banyak waktu secara sia-sia.
“Semoga pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan. Misal kalau di eceran penjual nya di persulit, bikin lagi lah tuh SPBU baru biar ga ada yang namanya antrean panjang,” katanya.
Antrean panjang di SPBU ini selain menyita waktu juga menyiksa secara fisik. Padahal harganya sudah dinaikan tetapi masyarakat masih saja dibebani harus mengantre.
“Jadi jangan sampe masyarakat udah dibebani kenaikan BBM, eh pas beli BBM nya suruh ngantri lagi. Belum lagi dibebani kenaikan harga bahan pokok,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor : Aas Arbi











