TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Minimnya sosialisasi dan publikasi kehadiran transportasi umum di Kota Tangsel dituding sebagai biang keladi dihentikannya operasional bus Anggrek.
Anggota DPRD Kota Tangsel Ferdiansyah mengatakan, kegagalan Pemkot Tangsel dalam pengadaan transportasi murah di Kota Tangsel karena sosialisasi dan publikasi yang minim.
“Sosialisasi terhadap Trans Anggrek misalnya, masih kurang kepada warga, sehingga masih banyak warga tidak mengetahui adanya transportasi publik yabg disediakan, mengenai jadwal, rute dan lain-lain masih sangat kurang,” ujarnya, Rabu 28 Desember 2022.
Menurut Wakil Ketua Fraksi PSI ini, sosialisasi yang dilakukan Dishub Tangsel selama ini tidak menyentuh kalangan bawah, padahal kalangan bawah lebih membutuhkan transportasi murah ini.
“Kalau memang mau diberlakukan dan dimassifkan, maka sosialisinya harus dimassifkan agar sampai ke kalangan bawah. Karena mereka lebih membutuhkan,” jelasnya.
Ferdy mengaku, selain karena faktor kurang sosialisasi, dia tidak menampik bahwa masyarakat Tangsel lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk menghindari macet dan alasan praktis.
“Jadi ini menjadi Pekerjaan Rumah bagi Dinas Perhubungan Tangsel untuk bisa lebih menggalakkan sosialisasi dan edukadi terhadap layanan publik tersebut,” tandasnya.
Sebelumnya, Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, Pemkot Tangsel pernah menghadirkan bus murah bernama Trans Anggrek Circle Line di tahun 2015. Sayangnya, bus ini kurang diminati masyarakat, sehingga sepi penumpang.
“Kita pernah menghadirkan 5 bus Anggrek. Tapi tidak ada yang naik, sedikit penumpangnya, akhirnya lama-lama kan perlu perawatan. Dan ini program lama kita ya,” jelasnya.
Reporter: Syaiful Adha.
Editor : Merwanda











