RADARBANTEN.CO.ID – Meminum segelas kopi sambil bersantai atau sebelum memulai aktivitas menjadi kebiasaan banyak orang.
Nikmatnya minum kopi konon bisa menjadi stress release alias pereda stres saat ditempa masalah sehari-hari.
Kumpul bersama teman atau kerabat tanpa minum kopi akan terasa seperti ada yang kurang. Bahkan ketika bertamu kita pun ditawari atau disuguhkan segelas kopi.
“Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Begitu cuitan sastrawan Joko Pinurbo, di akun Twitter-nyam @jokopinurbo, yang dikutip RADARBANTEN.CO.ID, Sabtu (25/2/2023).
Saat ini banyak sekali warung kopi atau coffee shop, baik yang modern maupun sederhana. Di sebuah mal, dalam gang sempit, tempat rekreasi, di pinggir jalan, dengan mudah kita bisa menemukan tempat ngopi.
Semenjak Belanda membawa bibit kopi ke Nusantara, tepatnya Pulau Jawa, pada tahun 1696, kopi telah menjadi minuman populer di Indonesia.
Banyak kedai kopi bermunculan yang bisa memenuhi kebutuhan konsumsi secara segmentatif.
Sebutan kopi darat atau dikenal dengan kopdar, seolah menjadi kosa kata baru dalam kamus Indonesia, ketika kegiatan berkumpul mempererat silaturahmi dengan teman atau keluarga ini dilakukan.
Faktor kebiasaan ngopi yang melekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia saat ini bisa saja menjadi sebuah budaya. Budaya ngopi.
Bahkan pada 11 Maret merupakan hari istimewa bagi pecinta kopi. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Kopi Nasional.
Mengutip portal Indonesia.go.id, hari kopi ini pertama kalinya diusulkan oleh Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) pada 2018.
Jadi hal yang lumrah jika mengatakan bahwa ngopi adalah sebuah budaya.
Berdasarkan data himpunan International Coffee Organization, ico.org, jumlah konsumsi kopi di Indonesia pada tahun 2020-2021 mencapai lima juta ton, dalam ukuran per 60 kilogram kantong.
Data di atas tentu akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya, mengingat saat ini tren ngopi yang semakin tinggi.
Penulis: Indra Sena
Editor: Aas Arbi












