slot bcaslot bonus new memberslot ovoslot server thailandslot pulsa tanpa potongankaka hokiempire88tuanpencetempire88raja botaknaga empirenaga empire
radarbanten.co.id
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV
No Result
View All Result
radarbanten.co.id
No Result
View All Result
Home Catatan Sekam

Yang Tidak Ada di Foto

Mashudi by Mashudi
25-06-2026 07:34:12
in Catatan Sekam
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Catatan Sekam

Share on FacebookShare on TwitterShare On Whatsapp

Bulan Juni ini, saya terlibat langsung da­lam tiga acara yang cukup besar. Tanggal 7 Juni, fun walk dalam rangka ulang tahun Ra­­dar Banten ke-26. Ribuan orang hadir. Tang­gal 11 Juni, Disway Top Regional Award, pem­berian penghargaan yang menghadirkan puluhan kepala daerah. Lalu tanggal 21 Juni, pelantikan pengurus IKA Unila Banten yang di­rangkaikan dengan diskusi bersama Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman. Sekitar 500 alumni Unila hadir.

Tiga acara itu menyisakan banyak foto. Ada foto panggung. Ada foto tamu. Ada foto penyerahan penghargaan. Ada foto peserta. Ada foto bersama. Ada wajah wajah yang tersenyum lega setelah acara selesai.

Baca Juga :

Dapur yang Paling Membutuhkan

Niat Besar yang Harus Dijaga

Hari Pertama yang Tidak Mudah

Mas Amin dan Rasa Kopi

Tapi setelah semua itu berlalu, saya sering teringat pada orang-orang yang tidak ada di foto. Mereka jarang sekali men­dapat tepuk tangan. Padahal, tepuk tangan dalam sebuah acara sering kali sangat bergantung pada mereka.

Suara pembicara terdengar jernih atau tidak, mereka ikut menentukan. Layar LED menyala sempurna atau tiba-tiba gelap, mereka yang paling dulu dicari. Lam­pu panggung terlalu terang atau terlalu redup, mereka yang kena tegur. Musik pembuka terlambat beberapa detik saja, orang langsung menoleh ke belakang. Seolah-olah semua kesalahan selalu bermula dari meja operator.

Begitulah nasib orang belakang layar. Kalau acara sukses, yang dipuji biasanya kon­sepnya. Panitianya. Pimpinannya. Tokohnya. Pembicaranya. Tamu undangan­nya. Bahkan kadang dekorasinya. Tapi ka­lau acara bermasalah, yang pertama kali dicari justru operatornya. “Sound-nya kenapa?” “LED-nya kok mati?” “Mic-nya kok kecil?” “Videonya kok belum mun­cul?” “Lampunya kok begitu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar seder­hana. Tapi bagi mereka, itu seperti alarm yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Sebab di tengah acara, tidak ada ruang untuk banyak alasan. Semua ha­rus segera beres. Saat itu juga. Di depan banyak orang. Dalam hitungan detik. 

Kru dari Banten TV yang bekerja di belakang layar menyukseskan acara.

Saya beberapa kali melihat wajah mereka menegang. Mata tidak lepas dari layar. Tangan terus bergerak. Satu telinga mendengar suara dari mixer. Satu telinga lagi menangkap aba-aba panitia. Kadang dari MC. Kadang dari pimpinan acara atau ketua panitia. Kadang dari orang yang tidak benar-benar tahu betapa rumitnya pekerjaan itu.

Mereka harus paham susunan acara. Harus tahu kapan lagu Indonesia Raya diputar. Kapan video ditayangkan. Kapan mic pembicara dibuka. Kapan bumper acara dimunculkan. Kapan lampu diturun­kan. Kapan kamera diarahkan. Kapan doku­mentasi mengambil momen penting. Mereka tidak boleh lengah. Sebab satu detik keterlambatan bisa terlihat oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Dalam acara penghargaan, misalnya, ada urutan penyerahan piala. Nama pe­ne­rima. Video yang muncul di layar. Posisi berdiri di panggung. Musik latar. Sorot lampu. Kalau semuanya tepat, orang menganggap itu memang seharusnya be­gitu. Tapi kalau ada satu saja yang keliru, suasana bisa berubah. Nama belum di­panggil tapi orang sudah maju. Piala yang seharusnya untuk kepala daerah tertentu hampir berpindah ke tangan yang lain. Video belum muncul saat pene­ri­ma penghargaan sudah berdiri di tengah pan­ggung. Atau MC sudah membaca nama berikutnya, sementara di layar masih tertulis nama sebelumnya.

Saat seperti itu, mata orang langsung mencari sumber masalah. Bukan ke pang­gung. Bukan ke meja VIP. Tapi ke belakang. Ke meja operator. Ke orang-orang yang duduk di antara kabel, laptop, mixer, layar kecil, dan wajah yang tiba-tiba lebih pucat dari biasanya.

Padahal, sering kali mereka juga hanya menerima perubahan mendadak. Nama bertukar. Urutan bergeser. Tamu penting datang lebih cepat. Ada yang belum hadir. Ada yang minta didahulukan. Ada video yang baru dikirim beberapa menit sebelum acara dimulai. Di depan, semua harus terli­hat mulus. Di belakang, mereka mena­han panik agar acara tetap berjalan.

Di fun walk Radar Banten, orang melihat ribuan peserta. Melihat panggung. Melihat hadiah. Melihat pejabat hadir. Melihat kemeriahan. Tapi di balik itu, ada orang orang yang sejak malam sudah memastikan kabel tidak salah colok, speaker tidak ma­ti, panggung aman, hadiah tertata, dan jalur acara berjalan.

Di Disway Top Regional Award, orang melihat kepala daerah naik panggung. Menerima penghargaan. Difoto. Disorot. Diberi aplaus. Tapi di belakang, ada orang-orang yang memastikan urutan tidak berantakan, nama tidak tertukar, video muncul pada waktunya, dan lampu menyala tepat saat tokoh berdiri di titik yang sudah disiapkan.

Di pelantikan IKA Unila Banten, orang melihat alumni berkumpul. Melihat sua­sana hangat. Melihat tokoh berbicara. Me­lihat diskusi berlangsung. Tapi ada orang-orang yang sejak awal sudah meng­hitung kursi, mengecek sound, menyiapkan layar, menyusun meja, memastikan kon­sumsi, mengatur tamu, dan tetap berdiri ketika orang lain sudah duduk. Mereka tidak tampil. Tapi tanpa mereka, orang-orang yang tampil bisa kehilangan panggung.

Saya kadang berpikir, acara besar sebe­narnya tidak hanya berdiri di atas nama besar. Tidak hanya ditentukan oleh siapa yang hadir. Tidak hanya diukur dari ba­nyaknya peserta. Acara besar sering diselamatkan oleh hal-hal kecil. Oleh orang-orang yang bekerja sungguh-sung­guh, meski namanya tidak pernah masuk su­sunan acara.

Kabel yang rapi. Mic yang menyala. Kursi yang cukup. Lampu yang pas. Air minum di meja pembicara. Layar yang tidak mendadak kosong. Lagu yang tidak terlambat. Video yang muncul pada waktunya. Hal-hal kecil seperti itu jarang disebut dalam sambutan. Tapi kalau salah satu saja gagal, suasana bisa berubah. 

Di situlah saya belajar. Tidak semua orang penting harus duduk di kursi depan. Tidak semua orang penting harus meme­gang mikrofon. Tidak semua orang penting harus disebut namanya oleh pembawa acara.

Ada orang-orang penting yang duduk di pojok ruangan. Di balik panggung. Di dekat mixer. Di samping kabel. Di ruang sempit yang panas. Di bawah tenda yang tidak terlihat kamera. Mereka bekerja bu­kan untuk terlihat. Mereka bekerja agar orang lain bisa terlihat baik. 

Itu pekerjaan yang tidak mudah. Mungkin karena itu, setelah beberapa acara selesai, saya sering merasa perlu menoleh ke be­lakang. Bukan hanya ke panggung. Bukan hanya ke meja tamu VIP. Bukan hanya ke deretan kursi undangan. Tapi ke tempat-tempat yang biasanya paling sepi dari perhatian.

Ke meja operator. Ke sudut dokumentasi. Ke belakang panggung. Ke orang-orang yang masih menggulung kabel ketika yang lain sudah bersalaman. Ke mereka yang masih mengangkat kursi ketika yang lain sudah pulang membawa cerita sukses acara.

Dalam hidup, ternyata banyak sekali orang seperti itu. Di kantor ada. Di rumah ada. Di organisasi ada. Di perusahaan ada. Di setiap kegiatan sosial ada.

Mereka mungkin bukan tokoh utama. Ta­pi tanpa mereka, tokoh utama bisa ke­­re­potan. Mereka mungkin tidak paling sering disebut. Tapi pekerjaan mereka mem­­buat banyak orang bisa disebut de­ngan baik.

Maka, setelah tiga acara besar di bulan Juni ini, saya ingin menulis tentang mereka. Tentang orang-orang yang tidak ada di foto. Tentang orang-orang yang tidak ber­diri di tengah panggung. Tentang orang-orang yang mungkin tidak masuk be­rita. Tapi diam-diam ikut memikul suk­ses acara. Sebab tidak semua jasa harus terlihat untuk disebut berarti. 

Kadang, yang paling menentukan justru bekerja dalam sunyi. Dan kepada mereka, rasanya kita perlu lebih sering mengatakan satu kalimat sederhana: Terima kasih.

Tags: Catatan Sekam
Plugin Install : Subscribe Push Notification need OneSignal plugin to be installed.
Previous Post

Universitas Esa Unggul Tangerang Gelar Open Campus & Future Fest 2026, Buka Akses Pengalaman Kuliah dan Dunia Karier Secara Langsung

Next Post

Dua Pelaku Penistaan Agama Injak Alquran di Lebak Didakwa Pasal Berlapis

Related Posts

Momentum Gerakan Kurangi Plastik
Catatan Sekam

Dapur yang Paling Membutuhkan

by Mashudi
Senin, 22 Juni 2026 07:43

Saya tidak ingin mengulang lagi soal tata kelola MBG. Sudah saya tulis sebelumnya dalam “Niat Besar yang Harus Dijaga”. Di...

Read moreDetails

Niat Besar yang Harus Dijaga

Hari Pertama yang Tidak Mudah

Mas Amin dan Rasa Kopi

Saya Kalah oleh Panitia

Ketika Kejatuhan Dirayakan

Setelah Upacara Selesai

Belajar dari Panitia Kurban

Dari Pasar Senen ke Pasar Modal

Reformasi dan Suara Motor Kurir

Next Post
Penistaan Agama Lebak

Dua Pelaku Penistaan Agama Injak Alquran di Lebak Didakwa Pasal Berlapis

KTP Elektronik Lebak

Tinggal 5 Ribu Warga Lebak Belum Miliki KTP Elektronik

Gala Siswa Indonesia Tangerang

Gala Siswa Indonesia Tingkat Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Gala Siswa Indonesia Tangerang

Gala Siswa Indonesia Tingkat Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup

Kamis, 25 Juni 2026 09:00
KTP Elektronik Lebak

Tinggal 5 Ribu Warga Lebak Belum Miliki KTP Elektronik

Kamis, 25 Juni 2026 08:46
Penistaan Agama Lebak

Dua Pelaku Penistaan Agama Injak Alquran di Lebak Didakwa Pasal Berlapis

Kamis, 25 Juni 2026 08:31
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Yang Tidak Ada di Foto

Kamis, 25 Juni 2026 07:34
Universitas Esa Unggul Tangerang Gelar Open Campus & Future Fest 2026, Buka Akses Pengalaman Kuliah dan Dunia Karier Secara Langsung

Universitas Esa Unggul Tangerang Gelar Open Campus & Future Fest 2026, Buka Akses Pengalaman Kuliah dan Dunia Karier Secara Langsung

Rabu, 24 Juni 2026 21:13
Gubernur Banten Andra Soni.

Gubernur Banten Keluarkan Surat Edaran Agar ASN Taat Bayar Pajak Kendaraan

Rabu, 24 Juni 2026 20:03
Gala Siswa Indonesia Tangerang

Gala Siswa Indonesia Tingkat Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup

Kamis, 25 Juni 2026 09:00
KTP Elektronik Lebak

Tinggal 5 Ribu Warga Lebak Belum Miliki KTP Elektronik

Kamis, 25 Juni 2026 08:46
Penistaan Agama Lebak

Dua Pelaku Penistaan Agama Injak Alquran di Lebak Didakwa Pasal Berlapis

Kamis, 25 Juni 2026 08:31
Momentum Gerakan Kurangi Plastik

Yang Tidak Ada di Foto

Kamis, 25 Juni 2026 07:34
Universitas Esa Unggul Tangerang Gelar Open Campus & Future Fest 2026, Buka Akses Pengalaman Kuliah dan Dunia Karier Secara Langsung

Universitas Esa Unggul Tangerang Gelar Open Campus & Future Fest 2026, Buka Akses Pengalaman Kuliah dan Dunia Karier Secara Langsung

Rabu, 24 Juni 2026 21:13
Gubernur Banten Andra Soni.

Gubernur Banten Keluarkan Surat Edaran Agar ASN Taat Bayar Pajak Kendaraan

Rabu, 24 Juni 2026 20:03

Ikuti Kami

Facebook Instagram X-twitter Youtube
Gates of Olympus

Kanal

News

Redaksi

Peluang Usaha

Viral

Inspirasi

Love Story

Olahraga

News Video

Serba Serbi

E-Paper

Tekno

Pedoman Pemberitaan

Indeks

Tutorial

Pilihan Editor

Gala Siswa Indonesia Tangerang

Gala Siswa Indonesia Tingkat Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup

by Mulyadi
Kamis, 25 Juni 2026 09:00

TANGERANG–Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, secara resmi menutup kegiatan Gala Siswa Indonesia (GSI) 2026 tingkat Kabupaten Tangerang yang digelar di Stadion...

KTP Elektronik Lebak

Tinggal 5 Ribu Warga Lebak Belum Miliki KTP Elektronik

by Nurabidin
Kamis, 25 Juni 2026 08:46

LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Lebak mencatat sebanyak 5.099 warga belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik. Wajib KTP...

Copyright@2021


istanbul escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
esenyurt escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
avcılar escort
esenyurt escort
beylikdüzü escort
marmaris escort
izmit escort
bodrum escort
antalya escort
antalya escort bayan

Radar Banten, All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Kota Serang
  • Kabupaten Serang
  • Pandeglang
  • Lebak
  • Tangerang
  • Cilegon
  • Hukum
  • Olahraga
  • Humaniora
  • Info Bhayangkara
  • Info Adhyaksa
  • Komunitas
  • Persona
  • Catatan SEKAM
  • E-Paper
  • Radar Banten TV

© 2021 radarbanten.co.id.

empire88empire88raja botak