Bulan Juni ini, saya terlibat langsung dalam tiga acara yang cukup besar. Tanggal 7 Juni, fun walk dalam rangka ulang tahun Radar Banten ke-26. Ribuan orang hadir. Tanggal 11 Juni, Disway Top Regional Award, pemberian penghargaan yang menghadirkan puluhan kepala daerah. Lalu tanggal 21 Juni, pelantikan pengurus IKA Unila Banten yang dirangkaikan dengan diskusi bersama Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman. Sekitar 500 alumni Unila hadir.
Tiga acara itu menyisakan banyak foto. Ada foto panggung. Ada foto tamu. Ada foto penyerahan penghargaan. Ada foto peserta. Ada foto bersama. Ada wajah wajah yang tersenyum lega setelah acara selesai.
Tapi setelah semua itu berlalu, saya sering teringat pada orang-orang yang tidak ada di foto. Mereka jarang sekali mendapat tepuk tangan. Padahal, tepuk tangan dalam sebuah acara sering kali sangat bergantung pada mereka.
Suara pembicara terdengar jernih atau tidak, mereka ikut menentukan. Layar LED menyala sempurna atau tiba-tiba gelap, mereka yang paling dulu dicari. Lampu panggung terlalu terang atau terlalu redup, mereka yang kena tegur. Musik pembuka terlambat beberapa detik saja, orang langsung menoleh ke belakang. Seolah-olah semua kesalahan selalu bermula dari meja operator.
Begitulah nasib orang belakang layar. Kalau acara sukses, yang dipuji biasanya konsepnya. Panitianya. Pimpinannya. Tokohnya. Pembicaranya. Tamu undangannya. Bahkan kadang dekorasinya. Tapi kalau acara bermasalah, yang pertama kali dicari justru operatornya. “Sound-nya kenapa?” “LED-nya kok mati?” “Mic-nya kok kecil?” “Videonya kok belum muncul?” “Lampunya kok begitu?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi bagi mereka, itu seperti alarm yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Sebab di tengah acara, tidak ada ruang untuk banyak alasan. Semua harus segera beres. Saat itu juga. Di depan banyak orang. Dalam hitungan detik.

Saya beberapa kali melihat wajah mereka menegang. Mata tidak lepas dari layar. Tangan terus bergerak. Satu telinga mendengar suara dari mixer. Satu telinga lagi menangkap aba-aba panitia. Kadang dari MC. Kadang dari pimpinan acara atau ketua panitia. Kadang dari orang yang tidak benar-benar tahu betapa rumitnya pekerjaan itu.
Mereka harus paham susunan acara. Harus tahu kapan lagu Indonesia Raya diputar. Kapan video ditayangkan. Kapan mic pembicara dibuka. Kapan bumper acara dimunculkan. Kapan lampu diturunkan. Kapan kamera diarahkan. Kapan dokumentasi mengambil momen penting. Mereka tidak boleh lengah. Sebab satu detik keterlambatan bisa terlihat oleh ratusan bahkan ribuan orang.
Dalam acara penghargaan, misalnya, ada urutan penyerahan piala. Nama penerima. Video yang muncul di layar. Posisi berdiri di panggung. Musik latar. Sorot lampu. Kalau semuanya tepat, orang menganggap itu memang seharusnya begitu. Tapi kalau ada satu saja yang keliru, suasana bisa berubah. Nama belum dipanggil tapi orang sudah maju. Piala yang seharusnya untuk kepala daerah tertentu hampir berpindah ke tangan yang lain. Video belum muncul saat penerima penghargaan sudah berdiri di tengah panggung. Atau MC sudah membaca nama berikutnya, sementara di layar masih tertulis nama sebelumnya.
Saat seperti itu, mata orang langsung mencari sumber masalah. Bukan ke panggung. Bukan ke meja VIP. Tapi ke belakang. Ke meja operator. Ke orang-orang yang duduk di antara kabel, laptop, mixer, layar kecil, dan wajah yang tiba-tiba lebih pucat dari biasanya.
Padahal, sering kali mereka juga hanya menerima perubahan mendadak. Nama bertukar. Urutan bergeser. Tamu penting datang lebih cepat. Ada yang belum hadir. Ada yang minta didahulukan. Ada video yang baru dikirim beberapa menit sebelum acara dimulai. Di depan, semua harus terlihat mulus. Di belakang, mereka menahan panik agar acara tetap berjalan.
Di fun walk Radar Banten, orang melihat ribuan peserta. Melihat panggung. Melihat hadiah. Melihat pejabat hadir. Melihat kemeriahan. Tapi di balik itu, ada orang orang yang sejak malam sudah memastikan kabel tidak salah colok, speaker tidak mati, panggung aman, hadiah tertata, dan jalur acara berjalan.
Di Disway Top Regional Award, orang melihat kepala daerah naik panggung. Menerima penghargaan. Difoto. Disorot. Diberi aplaus. Tapi di belakang, ada orang-orang yang memastikan urutan tidak berantakan, nama tidak tertukar, video muncul pada waktunya, dan lampu menyala tepat saat tokoh berdiri di titik yang sudah disiapkan.
Di pelantikan IKA Unila Banten, orang melihat alumni berkumpul. Melihat suasana hangat. Melihat tokoh berbicara. Melihat diskusi berlangsung. Tapi ada orang-orang yang sejak awal sudah menghitung kursi, mengecek sound, menyiapkan layar, menyusun meja, memastikan konsumsi, mengatur tamu, dan tetap berdiri ketika orang lain sudah duduk. Mereka tidak tampil. Tapi tanpa mereka, orang-orang yang tampil bisa kehilangan panggung.
Saya kadang berpikir, acara besar sebenarnya tidak hanya berdiri di atas nama besar. Tidak hanya ditentukan oleh siapa yang hadir. Tidak hanya diukur dari banyaknya peserta. Acara besar sering diselamatkan oleh hal-hal kecil. Oleh orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh, meski namanya tidak pernah masuk susunan acara.
Kabel yang rapi. Mic yang menyala. Kursi yang cukup. Lampu yang pas. Air minum di meja pembicara. Layar yang tidak mendadak kosong. Lagu yang tidak terlambat. Video yang muncul pada waktunya. Hal-hal kecil seperti itu jarang disebut dalam sambutan. Tapi kalau salah satu saja gagal, suasana bisa berubah.
Di situlah saya belajar. Tidak semua orang penting harus duduk di kursi depan. Tidak semua orang penting harus memegang mikrofon. Tidak semua orang penting harus disebut namanya oleh pembawa acara.
Ada orang-orang penting yang duduk di pojok ruangan. Di balik panggung. Di dekat mixer. Di samping kabel. Di ruang sempit yang panas. Di bawah tenda yang tidak terlihat kamera. Mereka bekerja bukan untuk terlihat. Mereka bekerja agar orang lain bisa terlihat baik.
Itu pekerjaan yang tidak mudah. Mungkin karena itu, setelah beberapa acara selesai, saya sering merasa perlu menoleh ke belakang. Bukan hanya ke panggung. Bukan hanya ke meja tamu VIP. Bukan hanya ke deretan kursi undangan. Tapi ke tempat-tempat yang biasanya paling sepi dari perhatian.
Ke meja operator. Ke sudut dokumentasi. Ke belakang panggung. Ke orang-orang yang masih menggulung kabel ketika yang lain sudah bersalaman. Ke mereka yang masih mengangkat kursi ketika yang lain sudah pulang membawa cerita sukses acara.
Dalam hidup, ternyata banyak sekali orang seperti itu. Di kantor ada. Di rumah ada. Di organisasi ada. Di perusahaan ada. Di setiap kegiatan sosial ada.
Mereka mungkin bukan tokoh utama. Tapi tanpa mereka, tokoh utama bisa kerepotan. Mereka mungkin tidak paling sering disebut. Tapi pekerjaan mereka membuat banyak orang bisa disebut dengan baik.
Maka, setelah tiga acara besar di bulan Juni ini, saya ingin menulis tentang mereka. Tentang orang-orang yang tidak ada di foto. Tentang orang-orang yang tidak berdiri di tengah panggung. Tentang orang-orang yang mungkin tidak masuk berita. Tapi diam-diam ikut memikul sukses acara. Sebab tidak semua jasa harus terlihat untuk disebut berarti.
Kadang, yang paling menentukan justru bekerja dalam sunyi. Dan kepada mereka, rasanya kita perlu lebih sering mengatakan satu kalimat sederhana: Terima kasih.










