SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kondisi Tol Tangerang-Merak tak bosan-bosan jadi perbincangan warga, terutama pengguna jalan tol. Jalan bebas hambatan sepanjang 72,45 kilometer itu menyisakan masalah menahun yang tak kunjung tuntas.
Jalan tol penghubung Kota Tangerang dan Pelabuhan Merak ini dibangun dalam kurun waktu 1992 hingga 1996. Tol ini dibangun sebagai kelanjutan jalan Tol Jakarta-Tangerang dan merupakan bagian dari Tol Jakarta-Merak.
Tol yang dikelola oleh PT Astra Tol Nusantara ini kerap menjadi buah bibir para pengguna jalan karena banyak hal yang sulit ditemukan di beberapa tol lain di Indonesia. Mulai jalan berlubang, naik turun penumpang bus di jalan tol, rest area pinggir jalan, dan minimnya penerangan jalan.
Dikutip dari Buku Tahunan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Tahun 2022, Tol Tangerang-Merak menjadi ruas tol dengan jumlah kecelakaan tertinggi dengan 224 kasus pada semester II/2021 dan 526 kasus sepanjang 2022.
BPJT menyatakan tingkat kecelakaan 2022 meningkat dibandingkan dengan 2021, tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum 2019. Namun, korban meninggal dunia di jalan tol sepanjang 2022 meningkat dibandingkan dengan kondisi 3 tahun terakhir.
Jumlah korban meninggal pada 2022 tercatat yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir dengan total 438 kematian, sedangkan pada 2021 tercatat 377 kematian, 2020 dengan 384 kematian, dan 2019 dengan totol 409 kematian.











