RADARBANTEN.CO.ID – Puasa Ramadan yaitu sebuah kewajiban bagi muslim sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.
Puasa Ramadan mengajarkan kebaikan. Merasa lemah karena lapar saat berpuasa, akan merasa bersyukur saat berbuka puasa karena karunia Allah SWT.
Ketika menyambut Ramadan umat muslim melakukan beragam macam persiapan, mulai dari yang sifatnya lahiriah hingga batiniah.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim salah satu sosok ulama panutan. Pria yang akarab disapa Gus Baha ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Rembang, Jawa Tengah. Ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Qur’an.
Gus Baha pun emiliki pandangan dan sikap dalam menjalankan puasa sebagai rukun Islam yang keempat.
Dikutip dari chanel YouTube Najwa Shihab yang berjudul menyambut Ramadan bersama Gus Baha, Gus Baha menjelaskan ketika lapar jalur ibadah atau berpuasa adalah dengan merasa lemah sebagai manusia. Ketika kenyang atau setelah berbuka puasa jalur ibadahnya memuji Allah dengan bersyukur.
Persiapan diri memasuki bulan Ramadan ala Gus Baha salah satunya adalah dengan mendalami kajian literatur dari para ulama terdahulu. Seperti di pesantren, contoh kecil dari mendalam ulama terdahulu ada tradisi yang namanya pasaran.
Pasaran kitab bermakna mengaji kitab dengan intesitas dan waktu yang lebih banyak dibanding bulan-bulan selain bulan Ramadan.
Metode yang digunakan saat pasaran Ramadan yaitu kiai membacakan kitab kuning per kata, kemudian dijelaskan. Sedangkan para santri menyimak dan memberi syakal dan memberikan makna pada setiap lafaz.
Jadi cara pandang Ramadan setidaknya kita merasa lapar. Betapa sakitnya orang miskin yang kelaparan, terus menghormati makan karena begitu nikmat saat berbuka.
” Ketika puasa melihat makanan yang biasa kita sepelekan pada saat tidak puasa, entah bosan atau ga nafsu tapi ketika Ramadan semuanya menjadi spesial, bahkan air putih pun spesial,” ucap Gus Baha.
“Nah di sini ada syukur yang luar biasa, jadi kalau tidak baca literatur ulama terdahulu dari beberapa kitab yang dikarang ulama, kita tidak akan tahu” tuturnya.
Kitab kuning yang ditulis secara langsung oleh ulama terdahulu menjadi rujukan atau literatur wajib di lembaga pendidikan dan juga dibaca oleh kaum muslim.
Jadi saat menjelang Ramadan diharapkan seseorang dapat membekali dirinya dengan pemahaman dan juga membekali diri dengan menelaah literatur pembelajaran ulama terdahulu.
Penulis : Siti Fatimah Azzahro
Editor : Aas Arbi











