SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Perguruan Terumbu Banten menampilkan atraksi seni budaya pencak silat dalam gelaran Panggung Asa yang berlangsung di Coffee Satu Asa, Graha Pena Radar Banten, Kota Serang, Kamis, 9 Juli 2026 malam.
Penampilan tersebut mendapat perhatian pengunjung yang memadati lokasi acara.
Atraksi pencak silat dibawakan oleh puluhan pesilat dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Mereka memperagakan beragam jurus dan teknik bela diri khas Terumbu Banten secara bergantian.
Setiap penampilan disambut tepuk tangan penonton. Para pesilat menunjukkan ketangkasan, kelincahan, dan kekompakan yang menjadi ciri khas seni bela diri tradisional Banten.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ajang memperkenalkan pencak silat sebagai bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga keberadaannya.
Sekretaris Jenderal DPP Terumbu Banten Irfan Hermawan mengatakan, eksistensi Perguruan Terumbu, khususnya di bidang pencak silat, terus berkembang dari tahun ke tahun mengikuti perubahan zaman.
Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong perkembangan tersebut adalah masuknya mata pelajaran muatan lokal pencak silat di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
“Hal itu menjadi salah satu kunci sehingga eksistensi Perguruan Terumbu semakin dikenal dan mulai banyak diminati oleh masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia menilai sebagian peserta didik masih mempelajari pencak silat karena tuntutan pendidikan. Ke depan, pihaknya berharap minat tersebut tumbuh dari kesadaran dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Ia berharap generasi muda memiliki semangat untuk bergabung dalam organisasi kebudayaan seperti Terumbu Banten sehingga pelestarian pencak silat dapat terus berlanjut.
“Dengan berkembangnya zaman, kami berharap muncul gairah dari kalangan anak muda untuk mencintai budaya sendiri sehingga organisasi kebudayaan ini terus berkembang dan mampu mengikuti perubahan zaman,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Radar Banten Grup, Mashudi, mengatakan pencak silat merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang harus terus diperkenalkan kepada masyarakat.
Menurutnya, budaya yang bernilai tinggi tersebut membutuhkan ruang untuk tampil agar semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.
“Kalau warisan budaya yang luar biasa ini tidak kita bantu mengenalkan dan memasarkan, lama-kelamaan orang bisa tidak tahu. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat bisa hilang jika tidak ada yang memfasilitasi untuk tampil,” kata Mashudi.
Ia menjelaskan, Panggung Asa di Coffee Satu Asa sengaja dihadirkan sebagai wadah bagi berbagai komunitas seni dan budaya untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat.
Ke depan, Panggung Asa tidak hanya akan menampilkan pencak silat, tetapi juga berbagai kesenian lain yang tumbuh dan berkembang di Provinsi Banten.
“Bukan hanya budaya asli Banten, tetapi juga kesenian dari berbagai daerah lain yang hidup di Banten. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama untuk mengedukasi masyarakat bahwa seluruh warisan budaya harus dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.*
Editor : Krisna Widi Aria








