A. Puasa & Disiplin

Ibadah puasa sebagai disiplin jasmani dan rohani, puasa Ramadan merupakan latihan kedisiplinan umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa, karena selain menahan dari pembatal-pembatal puasa disuruh untuk memperbanyak amal ibadah.
Melakukan ibadah puasa selain menahan lapar dan haus juga dituntut untuk berbuat baik, dapat dibayangkan seandainya umat dapat menjalankan aktivitas dengan disiplin dan mau belajar seperti bulan Ramadhan, tentu menjalani pekerjaan akan jauh lebih produktif.
Bahwa puasa memiliki nilai dan unsur melatih kedisiplinan sebab kewajiban ibadah puasa harus dijalankan pada Ramadan, waktunya sepanjang siang hari dan disunnahkan salat sunah tarawih hanya di malam hari. Di bulan suci ini, patutlah kita mengadakan acara-acara seperti ini untuk mendapatkan kemulian di bulan yang penuh keberkahan, rahmat dan magfirah.
Terdapat lima keberkahan yang akan diperoleh bagi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan. Pertama, dari puasa itu sendiri. Kedua, dibukanya pintu-pintu surga. Ketiga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Keempat, dibelenggunya setan-setan. Kelima, adanya satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Seseorang dalam Melaksanakan puasa ada yang disebut Autophogi yaitu merupakan cara tubuh untuk membersihkan diri dari sel-sel yang sudah tua dan rusak dan mati sehingga dapat membentuk sel-sel baru yang lebih sehat. Autophogi adalah mekanisme pembersihan diri yang terjadi ketika tubuh dilatih untuk puasa selama kurun waktu tertentu. Dan, proses ini merupakan bentuk alamiah yang berfungsi meremajakan tubuh yang terjadi pada orang yang berpuasa.
Banyak hikmah di balik bulan Ramadan jika dilihat dari berbagai aspek di antaranya; aspek moral, kemanusiaan, kesehatan baik jasmani maupun rohani. Aspek moral, dengan berpuasa umat Islam diharapkan mempunyai nilai moral dalam berperilaku yang lebih baik, sehingga makna puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi seharusnya bisa mengendalikan diri sebaik baiknya dari nafsu amarah atau emosional dan nafsu syahwat. Jika dilihat dari aspek kemanusiaan, adanya bulan Ramadan rasa empati umat Islam terhadap sesama akan lebih baik terutama terhadap fakir miskin dan anak yatim.
Ditinjau dari aspek kesehatan sesuai dengan hadis riwayat Thabrani menjelaskan bahwa “Berpuasalah kamu niscaya akan sehat”. Kutipan hadis tersebut dibuktikan dengan hasil-hasil penelitian bahwa dengan berpuasa akan mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun atau radikal bebas. Radikal bebas oksigen yang berlebihan di dalam tubuh akan mengurangi aktivitas kerja enzim yang akan menyebabkan terjadinya mutasi dan merusak dinding sel. Berakibat pada timbulnya beberapa penyakit degeneratif seperti stroke dan jantung koroner.
B. Penutup
Yang paling esensi dalam pelaksanaan puasa adalah menjaga jasmani serta rohani agar tidak melakukan tindakan dan perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Secara jasmani, puasa berarti tidak makan dan minum serta bagian pengendalian diri dengan melawan hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa tersebut.
“Lebih secara rohaniah, puasa haruslah tetap dapat membuat setiap orang yang melaksanakan puasa untuk memperbanyak amal ibadahnya,” amal ibadah, baik salat maupun amal-amal lain yang tentunya akan mendatangkan pahala dan kebijakan bagi dirinya maupun lingkungannya.
Berdasarkan hal tersebut, seluruh umat muslim dan muslimat untuk menjalankan ibadah ini dengan sungguh-sungguh serta melaksanakan semua rukun puasa sesuai tuntunan syariat Islam sehingga lewat berpuasa, sarana meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT juga memperbaiki akhlakul karimah. Semoga pada Ramadan ini kita dapat menjadi orang-orang yang terbebas dari dosa dan mendapat pengampunan dari Allah. Seterusnya mari kita jalankan puasa dengan penuh hikmat dan damai.
Nilai-nilai etis moral dalam berpuasa berfungsi sebagai sarana pemurnian, pensucian dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani). Energi positif itu berupa: pertama, kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual itu berupa iman, Islam, ihsan dan takwa, yang berfungsi membimbing dan memberikan kekuatan kepada manusia untuk menggapai keagungan dan kemuliaan (ahsani taqwim);
Kedua, kekuatan potensi manusia positif, berupa aqlus salim (akal yang sehat), qalbun salim (hati yang sehat), qalbun munib (hati yang kembali, bersih, suci, dari dosa) dan nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang), yang kesemuanya itu merupakan modal insani atau sumber daya manusia yang memiliki kekuatan luar biasa.
Ketiga, sikap dan perilaku etis. Sikap dan perilaku etis ini merupakan implementasi dari kekuatan spiritual dan kekuatan kepribadian manusia yang kemudian melahirkan konsep-konsep normatif tentang nilai-nilai budaya etis. Sikap perilaku etis itu meliputi: istikamah (integritas), ihlas, jihad, dan amal saleh.
Semoga hikmah puasa dapat kita peroleh yaitu; lebih meningkatkan amal dan ibadah kita kepada Allah SWT. Pola hidup yang berkualitas, baik dari segi kesehatan jasmani yang merupakan investasi kesehatan yang sangat penting, kesehatan rohani yang akan membuat hidup lebih berarti dan bahagia. Kesehatan jasmani dan rohani akan berdampak pada etos kerja, sehingga kita lebih menikmati pekerjaan, meningkatkan inovasi, kreativitas dan hasil kerja yang bermanfaat untuk masyarakat, lingkungan dan keluarga.
Semoga bermanfaat.
Penulis Adalah Kepala Bidang Pendidikan Agama & Keagamaan Islam Kanwil Kementerian Agama Prov. Banten / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan& Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.










