SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Pertanian (Distan) Banten berencana mengalokasikan anggaran khusus untuk memberikan asuransi kepada ribuan hektare (Ha) lahan padi di wilayah Banten.
Kepala Distan Banten Agus M Tauchid mengatakan, sedikitnya sekitar 5.000 Ha sawah yang jadi lumbung padi di Banten akan dimasukan dalam asuransi Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP).
Katanya, saat ini dari 5.000 Ha lahan padi, sedikitnya baru 3.500 Ha lahan padi yang tergabung dalam asuransi itu.
“Nanti ke depannya, kami berencana mengusulkan dengan anggaran APBD Pemprov Banten untuk membayarkan asuransi para petani yang rawan terkena musibah. Jadi para petani enggak perlu mengeluarkan uang sama sekali untuk asuransi ini,” kata Agus M Tauchid, Minggu 9 April 2023.
Agus mengatakan, saat ini para petani yang mengikuti asuransi itu harus membayar sekitar Rp36.000 per bulan untuk satu Ha lahan padinya. Jumlah itu tergolong sangat kecil dibandingkan value yang didapatkan para petani, khususnya jika terjadi musibah seperti puso.
“Dalam asuransi itu per hektarenya cuma Rp36.000, namun jika per musim sawah bisa menghasilkan Rp6 juta dalam sekali panennya, tentu itu akan sangat menolong sekali. ” katanya.
Di bulan Maret 2023, pihaknya mencatat sedikitnya ada 293 Ha sawah di Banten yang mengalami puso. Ratusan Ha sawah itu mengalami puso karena terkena bencana alam seperti banjir yang merendam beberapa wilayah di Banten.
Rencananya, melalui APBD Pemprov Banten tahun 2024, pihaknya akan mengalokasikan dana yang akan membayar AUTP secara penuh.
“Dengan cara seperti itu tentunya para petani akan dipaksa, sebab sekarang tidak semua petani mau ikuti asuransi. Padahal benefitnya banyak buat mereka, maka perlu adanya paksaan melalui subsidi ini tepatnya pada beberapa wilayah yang berpotensi akan terkena musibah. Dengan begitu maka petani akan terlindungi dari potensi gagal tanam ataupun panen,” ucapnya.
Selain AUTP, Distan juga memiliki program lainnya untuk membantu para petani yang mengalami puso, yakni bantuan cadangan benih. Lebih jauhnya, pihaknya meminta kerjasama dari semua pihak terkait khususnya pemangku kepentingan sungai seperti Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Cidurian, Ciujung (BBWSC3) untuk melakukan langkah antisipasi banjir yang dapat menyebabkan lahan padi terancam terbanjiri hingga mengakibatkan terjadinya puso.
“Nah sekarang ya bagaimana kerjasama atau sinergi dengan teman-teman Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk penanganan di kawasan hulu dan juga dengan teman-teman dari BBWSC3 bagaimana cara mengatasi sungai, apakah dengan pengerukan karena apa yang kita lihat sering terjadi pendangkalan, pendangkalan saluran yang justru itu penyebab nya banjir. Dengan sinergi saya yakin tingkat pengurangan bencana bisa kita kurangi,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











