Pertumbuhan ekonomi Kesultanan Banten membuat kekuatan dan kesejahteraan di wilayah yang dikuasai Banten menjadi sejahtera.
Masa kesultanan banten Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684) juga melakukan ekspansi perdagangan ke beberapa wilayah Cirebon, Priangan dan sekitar Batavia.
Pada saat adanya VOC yang dibuat Belanda merusak perekonomian Banten karena VOC memonopoli perdagangan yang merugikan masyarakat.
Pengelolaan Pelabuhan Merak Tahun 1527 oleh Kesultanan Banten yang saat itu dipimpin oleh Maulana Hasanuddin berhasil menguasai kota Pelabuhan di Banten.
Saat itu Belanda berhasil merebut Kota Pelabuhan Banten dari Kesultanan Banten.
Pada Tahun 1834-1912, Belanda menguasai laut jawa kemudian membangun berbagai jalur perdagangan jalur melalui sungai.
Pelabuhan Merak dibangun Belanda sebagai penghubung jalur kereta api di Tanah Abang, Jakarta dan dikelola oleh Staatsspoorwegen salah satu perusahaan swasta pada masa Hindia Belanda.
Pada tahun 1959, Soekarno menetapkan program nasionalisasi perusahaan asing bahwa Pelabuhan Merak dikelola Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP).
Pada Tahun 1977, Pelabuhan Merak sudah dikelola oleh PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan.
Seiring berjalannya waktu, Pelabuhan Merak sering direnovasi guna untuk penambahan fasilitas dan kenyamanan pengunjung.
Fasilitas di Pelabuhan merak yaitu adanya Tempat parker,Gedung Terminal Gedung Loket Gedung Rumah Genset Penimbangan Kendaraan Bermuatan (angkutan barang) Kawasan Perkantoran, Ruang Tunggu Ruang Tunggu Kapal Cepat Gedung Waiting Lounge Gedung Kantor Gedung Bundar STC Loket Tol Gate Utama Rumah MB I, II dan III, Masjid, Ruang Hijau terbuka , Fasilitas Kesehatan dan Ruang Ibu Menyusui.
Penulis: Siti Fatimah Azzahro
Editor: Haidaroh











