Penutup
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturahmi.” (HR Bukhari).
Halalbihalal yang dilaksanakan atau diadakan sebagian masyarakat dalam rangkaian Idul Fitri memang cukup logis, karena antara keduanya memiliki hubungan atau keterkaitan yang erat. Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian jiwa (tazkiyah al-nafs), sedangkan halal bihalal merupakan salah satu cara membersihkan diri dari dosa dan kekhilafan, terutama dosa dan kekhilafan dengan sesama manusia.
Hal ini sejalan dengan petunjuk ajaran Islam agar membangun hubungan yang harmonis dan seimbang dengan Tuhan (habl min Allah) dan dengan sesama manusia (habl min al-naas).
Dalam salah satu hadisnya Rasulullah SAW menginformasikan tentang orang yang pailit atau bangkruft di akhirat, padahal orang itu meninggal dengan membawa pahala ibadah yang cukup banyak: pahala salat, pahala puasa, pahal zakat, pahala haji, dan lainnya.
Namun orang itu dilemparkan ke dalam api neraka, karena orang tersebut pernah mencaci maki atau mempermalukan orang lain di depan umum, pernah menuduh tanpa bukti, pernah memukul orang lain, pernah mengambil harta milik orang lain, dan pernah menghilangkan nyawa orang lain.
Pahala ibadah orang tadi terpaksa harus diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya itu sebagai tebusan atau penggantinya; dan ketika pahala tersebut tidak cukup untuk menebus semua kesalahannya itu, maka terpaksa kesalahan orang-orang yang dizaliminya itu ditimpakan kepada orang yang membawa pahala yang pernah berbuat zalim itu, dan selanjutnya orang tersebut dilemparkan ke dalam api neraka.
Sebelum ajal datang menjemput, mari kita ingat-ingat amal perbuatan yang telah kita lakukan, dan jika isi hadis ini terkena pada kita, maka segeralah kita ambil langkap cepat, jangan ditunda-tunda lagi, sebelum ajal datang menjemput. Upaya meminta maaf melalui halalbihalal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW. Beliau mengundang keluarga, para sahabat dan orang-orang yang suka bergaul dengannya.
Pada kesempatan itu, Rasulullah SAW selain meminta maaf, juga mempersilakan kepada hadirin untuk menyampaikan sesuatu keberatan, atau mungkin menyampaikan sesuatu kesalahan yang dilakukan Rasulullah SAW dan mempersilakan menuntut balas atas kesalahan tersebut.
Kesempatan itu tersebut dimanfaatkan oleh sahabatnya yang bernama Akasah untuk mendekat, memeluk dan mencium badan Rasulullah karena cintanya, dengan berpura-pura ingin memukul badan Rasulullah SAW, karena ia mengaku untanya yang tidak mengenakan baju pernah terkena tombak Rasulullah SAW pada suatu peperangan.
Halalbihalal adalah waktu bagi keluarga, teman, dan anggota masyarakat untuk berkumpul bersama. Kini halalbihalal menjadi salah satu acara sehabis lebaran yang bisa ditemui di berbagai tempat, mulai dari pertemuan keluarga skala kecil hingga acara komunitas besar seperti tempat kerja. Selain itu halalbihalal juga dapat dilihat sebagai cara untuk menjaga kohesi sosial dan pengertian di antara umat Islam dari berbagai latar belakang.
Semoga Bermanfaat

Penulis Adalah Kepala Bidang Pendidikan Agama & Keagamaan Islam Kanwil Kementerian Agama Prov. Banten / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan& Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.










